PANDEMI Covid-19 yang semakin mengganas dan memakan banyak korban jiwa membuat Indonesia dalam kondisi darurat kesehatan. Berdasarkan data pada 24 Juni 2021, jumlah Covid-19 n meningkat sebanyak 20.574 kasus dalam satu hari. Hal ini menyebabkan ketersediaan kamar perawatan dan isolasi semakin menipis.
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Mantan Jendral TNI, Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, mengibaratkan kondisi pandemi Covid-19 seperti layaknya seorang prajurit yang sedang berperang ke medan peperangan. Alhasil masyarakat maupun pemerintah harus bersiap dan menghitung secara matang mengenai risiko-risiko yang bakal terjadi selama masa pandemi Covid-19.
“Kita analogikan seorang prajurit sebelum ke medan perang, telah mengkalkulasi dengan baik risiko-risiko dalam pertempuran. Dalam pertempuran kalau kita terjun payung, maka 33 persen dinyatakan meninggal. Kalau kita mendekati medan yang terbuka di bawah tembakan maka diperkirakan 12-15 persen prajurit saya meninggal,” kata Moeldoko, dalam sesi Virtual Press Conference, Senin (28/6/2021).
(Foto: Dok.Okezone)
Menurutnya pemikiran seperti itulah yang wajib dilakukan pemerintah maupun masyarakat untuk mencari solusi dalam mengatasi pandemi Covid-19. Lebih lanjut Moeldoko menjelaskan dalam kondisi kritis seperti ini, pemerintah tidak boleh tinggal diam, namun terus mencari cara agar Indonesia bisa terbebas dari pandemi Covid-19.
“Dalam kondisi kritis seperti ini, apakah kita harus diam? Menurut saya tidak, kita harus berbuat sesuatu. Diam ada risiko kematian. Melakukan sesuatu, kita belum tentu mati. Ini sebuah pilihan, pilihan yang bijaksana untuk melakukan sesuatu,” lanjutnya.
Baca Juga : Moeldoko Dukung Penggunaan Ivermectin untuk Sembuhkan Pasien Covid-19
Moeldoko menjelaskan bahwa upaya untuk menggunakan obat baru tidaklah mudah. Ia menjelaskan bahwa terdapat dokter yang mengatakan bahwa menggunakan ivermectin akan berisiko meninggal dan seterusnya.
“Menurut saya itu adalah pernyataan yang tidak bijak. Ini harus kita pahamkan ke masyarakat agar tidak terjebak perdebatan yang tidak produktif. Tentu kita tidak abai dengan permasalahan-permasalahan ilmiah,” tuntasnya.
(Helmi Ade Saputra)