SRI LANKA - Hewan laut mati dan hanyut ke pantai Sri Lanka berminggu-minggu setelah sebuah kapal kargo besar yang membawa bahan kimia berbahaya terbakar dan kemudian tenggelam di lepas Pantai Kolombo, Ibu Kota negara itu.
Melansir laporan The Washington Post, Rabu (23/6/2021). Makhluk laut termasuk lumba-lumba, kura-kura dan paus biru, beberapa terlihat dengan tanda terbakar, yang dilaporkan, telah mendarat di pantai negara itu. Sehingga meningkatkan ketakutan para pecinta lingkungan bahwa efeknya mungkin parah dan tahan lama.
“Apa yang terjadi saat ini tidak wajar,” kata Muditha Katuwawala dari Pearl Protectors, Organisasi Konservasi Laut Sri Lanka. Dia menyatakan keprihatinan atas jumlah kematian satwa liar yang dilaporkan sejak kapal terbakar. "Ini jelas jauh melampaui jumlah yang pernah kita lihat."
Baca Juga:
Yuk Melipir ke Pantai Sukamade, Surga Tersembunyi di Banyuwangi
Airlangga Tegaskan Kapasitas Tempat Wisata Hanya 50%
Associated Press melaporkan, Pemerintah Sri Lanka mengatakan bahwa hubungan ke kapal itu hanya "sementara" dan telah dikonfirmasi, lebih banyak pengujian yang sedang dilakukan.
“Sementara, kita dapat mengatakan bahwa kematian ini disebabkan oleh dua sebab, satu karena luka bakar karena panas dan kedua karena bahan kimia. Ini terlihat jelas,” kata Anil Jasinghe, Sekretaris Kementerian Lingkungan.
Katuwawala mengatakan lusinan penyu mati dan 19 makhluk laut lainnya telah dilaporkan ke organisasinya, jumlah yang menurutnya "sangat tidak biasa" dan kemungkinan juga kurang.
“Penyu-penyu ini selalu kembali ke pantai kami untuk bertelur,” katanya. “Ketika mereka kembali dan ini adalah kepulangan, itu sebenarnya cukup menyedihkan.”
Dalam laporan X-Press Pearl, sebuah kapal kontainer berbendera Singapura melaporkan kebakaran di atas kapal pada 20 Mei saat berada di dekat pelabuhan Kolombo. Api berkobar selama lebih dari seminggu, sementara upaya untuk memindahkan kapal ke perairan yang lebih dalam gagal.
Kapal itu menyimpan bahan kimia berbahaya seperti asam nitrat, natrium metoksida dan metanol. Di atas kapal juga terdapat miliaran pelet plastik seukuran miju-miju, yang dikenal sebagai nurdles, yang tumpah ke air dan menyelimuti pantai-pantai terdekat saat kapal itu tenggelam.