Inti dari konsep Tuur Ma'sering sendiri adalah wisata berbasis masyarakat, bagaimana masyarakat bisa menjadi mata rantai ekonomi pariwisata, karena biasanya ketika sebuah daerah menjadi destinasi wisata baru maka banyak penduduk-penduduk lokal yang terpinggirkan sehingga menjadikan Tuur Ma'asering menjadi benteng terakhir penduduk lokal menghadapi persaingan ke depan.
"Awalnya di sini tempat masyarakat lokal mencari nafkah dengan melakukan penyulingan, jual saguer. Orang yang masuk ke tuur ma'asering tanpa mereka sadari mereka sudah membantu petani aren, membantu dalam pelestarian lingkungan, karena sebagian harga tiket itu untuk petani-petani aren, karena saguer atau nira dijadikan welcome drink di sini, itu milik petani. Hari ini ada petani aren yang sudah dapat gaji 8 juta perbulan, karena saguer dia bawa kesini kita jadikan welcome drink," kata Jepol
Kalau pohon aren sudah bernilai secara ekonomis, penduduk sudah tidak akan menebang, dikonversi menjadi lahan perkebunan dan turut melestarikan lingkungan. Ke depan kata dia, akan dibuat sekolah alam gratis bagi anak-anak di lahan seluas tiga hektare itu.
Saat hari mulai gelap, pemandangan di Tuur Ma’asering akan terlihat lebih menarik, cahaya lampu yang melingkari pohon aren bakal membuat pemandangan sekitar kian unik.
Juga pengunjung bisa bersantai sambil menikmati makanan-makanan ringan yang ditawarkan di Tuur Ma’asering.
Tempat yang beroperasi sejak Oktober 2020 ini pun belakangan menjadi lokasi tujuan wisatawan yang datang dari berbagai wilayah di Sulut dan juga dari mancanegara. Bahkan sejak dibuka hingga hari ini, pengunjung yang datang tetap stabil.
(Salman Mardira)