TOMOHON berada di dataran tinggi dengan topografi pegunungan yang membentang dari utara ke selatan. Kota yang terletak sekira 22 kilometer sebelah timur Manado, Sulawesi Utara ini punya banyak tempat wisata di atas bukit yang menawarkan pemandangan alam indah. Salah satunya Tuur Ma’asering.
Tuur Ma’asering terletak di Kelurahan Kemulembuai, Kecamatan Tomohon Timur, sekira 15 sampai 20 menit dari pusat Kota Tomohon, merupakan destinasi yang memadukan wisata alam dan kearifan lokal.
Tempat wisata ini berada di tengah hutan pohon aren dan dahulu merupakan tempat masyarakat lokal melakukan penyulingan air nira atau saguer yang dirombak menjadi tempat wisata unik ditambah dengan bangunan cafe yang terbuat dari kayu dan bambu menjadi ciri khas tersendiri di Tuur Ma’asering.
Baca juga: Uniknya Rumah Panggung Minahasa, Dulu Ditanam Kepala Manusia di Tiangnya
Ciri khas unik lainnya yakni ditempat ini anda bisa menyaksikan secara langsung penyulingan cap tikus, minuman khas tradisional Minahasa yang merupakan hasil fermentasi dan distilasi air nira dari pohon Aren.
Keunikan lainnya di Tuur Ma’asering pengunjung bisa mencicipi saguer yang merupakan minuman beralkohol berkadar rendah khas Minahasa dengan disajikan dalam tempurung dan dijadikan sebagai welcome drink bagi pengunjung yang datang.
Jeffri Polii selaku pemilik tempat wisata ini mengatakan bahwa awal tercetus ide pembuatan tempat wisata ini hasil perenungan panjang dirinya selaku aktivis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Ide tersebut kata dia berawasl dari pergumulan bagaimana kemudian ketika berbicara soal pelestarian lingkungan itu bisa seiring dengan peningkatan ekonomi rakyatnya. Kadang kala isu peningkatan ekonomi kerakyatan dan pelestarian lingkungan itu menjadi isu yang terpisah.
Baca juga: Ini Strategi Tomohon Menuju Destinasi Wisata Sehat dan Aman
"Bagi saya isu pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat itu harus satu dan kemudian hutan aren ini menurut saya yang paling pas mengangkat dua isu yang bersamaan karena menurut saya pohon aren adalah pohon konservasi karena mampu menampung dan menyerap air yang banyak," tutur Jepol, sapaan akrabnya kepada MNC Portal, Jumat 18 Juni 2021.
Selain itu kata dia, banyak petani-petani aren yang sampai hari ini profesinya menjadi pihak-pihak yang selalu dirugikan karena dipersalahkan dan terkena dampak dari terjadinya kriminalisasi dan keributan.
Baginya, petani aren adalah bagian dari profesi yang kemudian mereka hanya berpikir keluarga mereka bisa makan, anak-anak mereka bisa sekolah, persoalan urusan keributan karena ada minuman lokal itu bukan urusan para petani, ada pihak-pihak yang bertangung jawab soal keributan tersebut.
"Dan bagi saya warisan leluhur Minahasa soal penyulingan minuman lokal itu sebuah maha karya leluhur Minahasa yang saya coba angkat menjadi sebuah ikon pariwisata dan puji syukur ternyata itu bisa diterima oleh banyak sekali kalangan," ujar Jepol.