SUBUH itu tak lagi riuh. Tidak ada kerumunan, suara gemuruh pedagang pun tak terdengar lagi, merahnya tomat dan hijau sayur pun tak lagi menghiasi aspal di kawasan pusat perdagangan ibu kota provinsi Aceh itu.
Pagi itu juga, aparat keamanan TNI-Polri, Satpol PP, petugas lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ) tampak siaga di berbagai sudut pasar Peunayong Banda Aceh, mulai dari jalan kartini, pasar ikan hingga lapangan SMEP.
Mereka ditugaskan mengawal para pedagang yang telah dipindahkan ke lokasi lain agar tidak kembali di sana. Karena lokasi tersebut telah masuk dalam perencanaan penataan ulang oleh pemerintah setempat.
Baca juga: Bangun Pusat Wisata Kuliner, Pemkot Banda Aceh Relokasi Ratusan Pedagang
Para pedagang pasar Peunayong itu semuanya direlokasi ke pasar baru bernama Al Mahirah Lamdingin yang telah jauh-jauh hari dipersiapkan Pemerintah Kota Banda Aceh.
Meski proses pemindahan sempat diwarnai penolakan dari sejumlah pedagang, Pemerintah Banda Aceh tempat memaksakan relokasi karena telah dipersiapkan tempat baru yang lebih representatif, serta demi tujuan memperindah kota, dan menciptakan pusat perekonomian baru.
Tugu Nol Kilometer Banda Aceh (Antara/Rahmat)
Ketegasan pemerintah berujung baik, pedagang akhirnya menerima dipindahkan ke tempat baru Al Mahirah Lamdingin dengan kapasitas dan fasilitas yang lebih memadai, serta mampu menampung sekitar 1.000 pedagang.
Relokasi pedagang itu kini telah membuat kawasan pasar Peunayong lebih bersih dan tak lagi semrawut, terhindar dari kemacetan pada jam tertentu, lalu lintas lebih lancar dilalui pengendara.
Wisata kuliner
Pemerintah Kota Banda Aceh berencana menyulap kawasan pasar Peunayong tersebut menjadi titik perekonomian baru di tanah rencong, yaitu khusus untuk wisata kuliner, kota tua serta perdagangan jasa lainnya.
Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan, pasar Peunayong sudah masuk dalam program penataan kota berkelanjutan yang telah direncanakan sejak lama dengan tujuan menumbuhkan perekonomian masyarakat.
Ke depan, ujar dia, kawasan tersebut akan dijadikan pusat kuliner, di samping fungsi utamanya sebagai kawasan perdagangan.
Pembangunan pusat wisata kuliner tersebut dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam rangka menunjang destinasi pariwisata, serta hadirnya titik perekonomian baru di Banda Aceh.
Secara teknis, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Banda Aceh Jalaluddin menjelaskan, rencana pembangunan lokasi wisata kuliner dan perdagangan jasa lainnya di bekas pasar Peunayong tersebut telah diusulkan tahun ini, dan bakal mulai dikerjakan 2022 mendatang.
Di kawasan Peunayong tersebut terdapat tiga titik pembangunan wisata kuliner, antara lain lokasi bekas pasar ikan, sayur dan lapangan SMEP. Total lahan seluruhnya yang dimiliki seluas 1,17 hektare (Ha).
Baca juga: 5 Tempat Wisata di Banda Aceh Paling Tersohor, Yuk Intip!
Jalaluddin memaparkan, lahan pembangunan yang tersedia yakni di lapangan SMEP seluas delapan ribu meter, pasar ikan 2,7 ribu meter, dan pasar sayur Kartini sekitar seribu meter.
Ke depan, lanjutnya, seluruh area tersebut akan dibangun lokasi wisata kuliner, perdagangan jasa hingga tempat bermain untuk anak-anak.
Jalaluddin menyampaikan, untuk konsep rencana pembangunan pusat wisata kuliner tersebut sudah difinalisasi serta diusulkan tahun ini dalam APBK 2022 Banda Aceh, agar kemudian dapat direalisasi pada mata anggaran tahun berjalan.