INDONESIA memang menghentikan sementara distribusi satu batch vaksin AstraZeneca yakni CTMAV547. Hal ini dilakukan sebagai upaya memastikan keamanan vaksin Covid-19 itu terkait KIPI yang dilaporkan.
Pasalnya, ada kejadian pasca-vaksinasi yang menyebabkan dua orang meninggal. Keduanya diketahui mendapatkan vaksin merek AstraZenca.
Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi (paru) RSUP Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, menuturkan semua obat termasuk vaksin Covid-19 dari AstraZeneca bisa menyebabkan efek samping meskipun tidak semua orang mengalaminya.
Efek samping ini sifatnya sangat umum atau mungkin muncul pada lebih 1 dari 10 orang seperti nyeri, nyeri tekan, rasa hangat atau gatal pada bagian tubuh yang disuntik, rasa tidak enak badan, rasa lelah, menggigil atau merasa seperti demam, nyeri kepala, mual dan nyeri sendi otot.
Ada juga keluhan bengkak atau kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik, demam, muntah atau diare, nyeri tungkai dan lengan dan gejala serupa flu seperti demam, nyeri tenggorokan, pilek, batuk dan menggigil.
Keluhan ini menurut Erlina umum atau mungkin muncul pada 1 dari 10 orang. Untuk mengatasinya, obat yang mengandung paracetamol bisa digunakan untuk mengatasi efek samping semisal nyeri dan atau demam.
"Bila terjadi KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang berat dihentikan, bukan berarti berhenti selamanya. Ini sifatnya prosedural dan dilakukan untuk semua hal, bukan hanya vaksin tetapi juga obat. Efek samping vaksin rata-rata sama, ringan hingga sedang," tuturnya.