Melihat Masjid Tertua di Bojonegoro Berusia 3 Abad Peninggalan Kerajaan Mataram

Avirista Midaada, Jurnalis
Sabtu 24 April 2021 17:02 WIB
Masjid Nurul Huda, tertua di Bojonegoro peninggalan Kerajaan Mataram (Foto: Okezone.com/Avirista Midaada)
Share :

SEJARAH peradaban Islam di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tak bisa dipisahkan dari Masjid Nurul Huda. Masjid tertua di Kabupaten Bojonegoro ini menjadi salah satu cikal bakal syiar Islam di Bumi Rajekwesi.

Berada di tepi Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, masjid ini menjadi masjid tertua di Bojonegoro.

Masjid ini didirikan oleh Ki Ageng Wiroyudo dari Kerajaan Mataram tahun 1775 Masehi. Di mana kala itu, ia melarikan diri dari kejaran penjajah Belanda hingga tiba di Desa Cangaan, Kanor, Bojonegoro.

Tampak dari sekilas dari bangunan masjid sendiri memang berbeda. Konstruksi masjid tertua di Kabupaten Bojonegoro ini lebih modern dengan struktur batu bata yang kokoh. Memasuki area masjid juga terlihat pintu gapura berwarna putih dengan pagar hijau yang siap menyambut setiap jamaah yang datang.

Dari bangunan inti masjid seluas 15x15 meter ini juga tampak modern, dengan struktur dominasi tembok warna putih dengan pilar-pilar yang berlapis keramik, seperti sebuah bangunan yang baru saja dibangun.

Namun, saat kita melihat bagian teras masjid depan, bisa jadi anda terkejut. Daun pintu berbahan baku kayu jati kuno yang terletak di pintu depan masuk masjid. Di daun pintu ini bertuliskan sebuah huruf arab dan huruf aksara jawa.

Baca juga: 5 Masjid Unik di Indonesia, Bikin Wisatawan Terpesona


Tak ketinggalan dua kalimat bertuliskan 'Laa Ilaaha Illallah' di kanan dan 'Muhammad Rasulullah' di kiri dengan huruf arab gundul. Di bawahnya terdapat tulisan 1262 Hijriah menggunakan angka arab yang menandakan tahun pembuatan.

Belum lagi konstruksi bangunan di dalam masjid dengan 4 pilar utama di ruangan ibadah utama tampak bahwa masjid ini bukan masjid yang baru dibangun. Meski secara keseluruhan konstruksi lebih modern.

Ketua Takmir Masjid Jami' Nurul Huda Cangaan, Abdul Hakim mengakui, masjid tertua ini telah mengalami renovasi pemugaran beberapa kali sehingga kesan tuanya hampir hilang. Beberapa faktor salah satunya terjangan banjir yang kerap melanda, membuat masjid terpaksa direnovasi dan diremajakan

"Memang masjid ini tertua di Bojonegoro. Usianya lebih dari 1847 Masehi atau 1262 Hijriah. Jadi tulisan 1262 Hijriah pada daun pintu merupakan renovasi ketiga dari waktu berdiri awalnya masjid. Tapi ini sudah beberapa kali direnovasi karena terkena banjir itu," ungkap Abdul Hakim.

Menurut Hakim, Masjid Jami Nurul Huda ini didirikan oleh bagian Kerajaan Mataram Islam asal Solo yakni Ki Ageng Wiroyudo. Ki Wiroyudo demikian nama akrab beliau, yang kemudian berganti nama menjadi Abdul Hamid, usai pergi haji, kabur dari Kerajaan Mataram lantaran wilayah kerajaan diserang Belanda dan ia pun melarikan diri menelusuri Sungai Bengawan Solo hingga terdampar di Desa Piyak, Kecamatan Kanor.

Baca juga: Masjid Berbentuk Kakbah di Subang, Wisata Religi Obat Rindu Tanah Suci

"Jadi dari cerita nenek moyang dahulu Mbah Buyut Wiroyudo dengan nama Ki Ageng Wiroyudo ini kabur dari Mataram karena dikejar Belanda. Naik perahu bersama pasukan lainnya dan terdampar di Desa Piyak. Lalu setahun di Piyak, pindah ke sini (Cangaan)," terangnya.

Di Desa Cangaan inilah, Wiroyudo akhirnya mendirikan masjid tahun 1775 Masehi untuk tempat ibadah dan menyebarkan agama Islam.

Awalnya bangunan Masjid Nurul Huda hanya berkonstruksikan kayu dengan atapnya berasal dari alang-alang dan daun jati. "Dulu sebelum dipugar, masjid tersebut atapnya terbuat dari alang-alang dan daun jati," imbuhnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya