LEDAKAN bom di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, menimbulkan sejumlah korban luka-luka. Sementara dua terduga pelaku tewas. Bom bunuh diri ini pun disebut masuk kategori high explosive atau ledakan berkekuatan besar.
"Jenis ledakan sementara high explosive karena daya ledakan cukup tinggi," terang Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Merdisyam di Kota Makassar, Minggu 28 Maret 2021.
Baca juga: Bom di Gereja Katedral Makassar Bisa Timbulkan Trauma PTSD, Kenali Gejalanya
Lantas, apa yang akan terjadi jika high explosive terjadi?
Dilansir dari laman American Speech Language Hearing Association (ASHA), akibat ledakan besar atau high explosive akan menimbulkan cedera ringan dan parah, kematian, bahkan hingga gangguan pendengaran.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), cedera pendengaran adalah salah satu cedera primer yang paling umum akibat ledakan besar.
Baca juga: Korban Bom di Gereja Katedral Makassar Bertambah Jadi 20 orang
Kemudian, kategori dan jumlah bahan peledak memengaruhi jenis serta cedera yang dialami.
Gelombang ledakan singkat bergerak lebih cepat dari kecepatan suara, memancar ke segala arah dari lokasi ledakan.
Saat jaraknya meningkat dari pusat gempa, gelombang ledakan kehilangan energi dan melambat, menjadi gelombang akustik.
Di belakang gelombang ledakan adalah gelombang tekanan negatif yang sedikit lebih panjang, maka fase terakhir adalah apa yang dikenal sebagai "angin ledakan". Inilah yang dapat memicu gangguan pendengaran akibat high explosive.
Baca juga: Mahfud MD: Bom di Gereja Katedral Makassar Tak Terkait Agama, Itu Adalah Teror!
(Hantoro)