Perempuan penenun ulos Sartika Martilova Sihombing dari Tapanuli Utara, Toba, mengungkapkan, pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang berat. Awal pandemi, ia sempat pesimis bisa bertahan sebagai penenun ulos, karena pesanan tenun ulos turun drastis.
"Setelah beberapa bulan masa pandemi, saya mulai bangkit dan semangat lagi. Salah satu yang membuat semangat bertenun saya kembali adalah pendampingan," ujarnya.
Ia mengikuti berbagai pelatihan daring. Pengalaman ini pun tak hanya dirasakan sendirian, melainkan banyak penenun lain terdampak Covid-19. Ya, para wirausaha muda lain juga ikut terdampak.
"Dari situ kami saling berbagi informasi dan bertukar pengalaman tentang cara untuk tetap bertahan," imbuh pemilik Soit Tenun Ulos itu.
(Dewi Kurniasari)