KELENTENG Sam Poo Kong di Kota Semarang Jawa Tengah, kerap dikunjungi wisatawan. Walau masa pandemi Covid-19 belum berakhir, pesona wisata di Jalan Simongan Semarang seolah tak pudar.
Kelenteng ini berlokasi di sebelah barat daya Kota Semarang. Jarak dari Simpang Lima yang menjadi jantung Kota Semarang, hanya berkisar 3,6 kilometer, atau ditempuh perjalanan sekira 10 menit. Bisa melintasi rute Jalan Pandanaran – Jalan Dr. Sutomo – Jalan Kaligarang - Jalan Simongan.
Bangunan megah dengan dominasi warna merah menjadi pemandangan pertama ketika memasuki halaman luas yang digunakan sebagai area parkir. Meski tertutup oleh pagar dan bangunan loket masuk, namun atap bangunan berdesain Tionghoa tampak menjulang.
Meski tak banyak, sejumlah wisatawan tampak mengantre masuk. Tiket masuk bisa dibeli dengan tunai maupun menggunakan jaringan online. Untuk mengakses semua area kelenteng pengunjung dikenakan tiket Rp20 ribu untuk dewasa, sedangkan anak-anak dibanderol Rp10 ribu.
Protokol kesehatan diterapkan secara ketat mulai dari pintu masuk. Seorang petugas berdiri mengawasi setiap pengunjung untuk memastikan cuci tangan dan dicek suhu tubuh. Pengunjung selalu jaga jarak, terlebih bila dari rombongan berbeda.
Hampir semua kawasan yang diakses wisatawan berupa area terbuka. Wisatawan bisa menyusuri jalan-jalan menuju ke kelenteng. Terdapat empat kelenteng yang bisa dikunjungi, yakni Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, dan Kelenteng Kiai Jangkar.
Masyarakat sekitar menyebut kelenteng ini sebagai Gedung Batu. Bentuknya mirip bangunan gua besar yang berada di sebuah bukit batu. Patung Laksamana Cheng Ho berdiri gagah di halaman kelenteng. Kawasan ini tak lepas dari sejarah ekspedisi pelayaran Cheng Ho yang diutus Kaisar China.
Meskipun Laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim, tetapi masyarakat keturunan Tionghoa menganggapnya sebagai dewa. Sebab, penganut agama Konghucu atau Taoisme menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.
Berikut catatan sejarah yang dihimpun selama perjalanan wisata di awal2021 berdasarkan informasi dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jawa Tengah.
Baca Juga: Wisata Candi Jawi, Jejak Kerajaan Singasari & Relief yang Menyisakan Misteri
Nakhoda Kapal Cheng Ho Sakit
Ekspedisi pelayaran Laksamana Cheng Ho ke Nusantara terhambat karena sejumlah awak kapal menderota sakit. Bahkan, juru mudi atau nakhoda kapal turut sakit, hingga Cheng Ho memutuskan untuk menepi dan singgah di pesisir utara Pulau Jawa.
“Sam Poo Kong ini dulunya tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho yang menjalankan ekspedisi pelayaran ke wilayah Nusantara. Pada saat itu dari perjalanannya mengalami beberapa hambatan karena ada salah satu anak buahnya yaitu nakhoda kapal atau juru mudi kapal menderita sakit. Sakitnya itu parah, kemudian sampai Laksamana Cheng ho memerintahkan semua anak buahnya untuk merapat ke daerah pesisir utara Jawa. Itulah dengan nama Semarang,” kata anggota HPI Jateng Heri Aprianto.
Belantara Kaya Rempah
Ekspedisi pelayaran itu berlangsung pada 1405. Diinformasikan daerah yang kini bernama Semarang merupakan belantara yang kaya rempah-rempah. Dengan bahan rempah tersebut diracik sebagai obat untuk menyembuhkan awak kapal yang sakit.
“Saat itu daerah Semarang ini merupakan belantara. Makanya di sini dulu bekas dermaga kecil, kemudian Cheng Ho tinggal di sini untuk mencari rempah-rempah untuk mengobati anak buahnya sakit yaitu diberi ramuan, kemudian sembuh. Kemudian Laksamana Cheng Ho justru melanjutkan perjalanannya pelajarannya ke Surabaya dan melewati Tuban. Di sana juga singgah ada kelenteng Tuban, itu juga sama merupakan peninggalan Laksamana Cheng Ho,” ungkapnya.
Menyebarkan Islam dan Mengajari Bertani
Bukan sekadar mencari rempah-rempah untuk pengobatan anak buahnya, Cheng Ho kala itu juga menyebarkan Agama Islam kepada penduduk setempat. Selain itu, Cheng Ho dan pasukannya juga mengajarkan cara bercocok tanama dan berdagang.
“Uniknya adalah Laksamana Cheng Ho di daerah Sam Poo Kong atau Simongan ini melakukan suatu kegiatan yang sangat bagus buat masyarakat wilayah sini. Salah satunya adalah mengajarkan bercocok tanam, mengajarkan agama Islam, dan mengajarkan perdagangan. Ini yang menjadikan nilai positif, sehingga masyarakat Kota Semarang ini pada saat itu menjadi lebih mengerti tentang cocok tanam sehingga menghasilkan pertanian yang melimpah,” jelasnya.
Membangun Masjid
Sebagai penganut Islam, Cheng Ho juga melaksanakan ibadah sesuai agamanya. Dia juga mendirikan bangunan sebagai tempat ibadah baginya dan awak kapal yang beragama Islam. Bangunan itu menjadi masjid pertama yang didirikan di Semarang.
“Pada saat itu Laksamana Cheng Ho dan pasukannya memberikan nuansa positif, dalam arti mengajari memberikan penerangan tentang ajaran agama Islam. Inilah awal dari agama Islam memiliki masjid di daerah Semarang, khususnya di wilayah Simongan. Yaitu masjid yang dibangun oleh Laksamana Cheng Ho. Sebenarnya bukan masjid besar, ya mungkin langgar (musala). Orang-orang muslim Tionghoa yang ada disini memilih menetap dan beranak pinak,” beber dia.
Berubah Jadi Kelenteng
“Kalau di Sam Poo Kong sendiri itu sebenarnya berubah fungsi ketika masyarakat Tionghoa ini menginginkan adanya kebudayaan Budha, Tao, dan Konghucu menjadikan nama Tridharma. Jadi Tridharma adalah kepercayaan yang mengajarkan tentang penghargaan dan pengagungan kepada leluhur mereka. Walaupun Cheng Ho beragama Islam juga menghormati mengagungkan leluhur mereka sehingga di sini ada altar patung-patung itu mengisahkan tentang kebesaran kaisar, kebesaran orang-orang tokoh-tokoh penting. Sekarang tentunya berubah menjadi daya tarik wisata bukan hanya tentang keindahan bangunan, tetapi juga wisata religi,” terangnya.
“Sekarang sudah tidak ada Islam di dalamnya. Semuanya sudah berupa altar-altar dan tidak ada masjidnya, tapi karena cintanya kepada Cheng Ho sebagai laksamana muslim yang memiliki jasa besar, sehingga banyak juga masyarakat muslim datang ke sini untuk mengingat dan melihat sejarah ajaran islam yang disampaikan Laksamana Cheng Ho dengan para ekspedisinya,” jelasnya.
Terdapat Bedug
"Di sini ada bedug ,ini juga peninggalan China. Masjid-masjid di Jawa ini sering ada bedug itu merupakan peninggalan dari kebudayaan Tionghoa. Jadi kita hidup berbudaya tidak hanya satu budaya tapi berbagai macam budaya. Tridharma adalah gabungan antara Buddha, Tao, dan budaya Konghucu. Sehingga kalau ditanya agama apa yang ada di Sam Poo Kong dominasinya adalah Buddha. Tapi juga ada Tao karena menghormati leluhur mereka.
Meski tak tersisa bangunan masjid di kawasan Kelenteng Sam Poo Kong, namun masih terdapat makam muslim di dalamnya. Makam juru mudi atau nakhoda kapal Cheng Ho yang beragama Islam.
“Iya di sini ada peningkatan muslim karena di dalam itu ada makam muslim. Memang tadinya ada masjidnya tetapi sekarang sudah dibongkar dan semuanya sudah tidak ada nuansa masjid lagi. Yang ada hanya makam muslim itu menjadi situs sebagai makam yang diagungkan oleh masyarakat suku Tionghoa di sini. Masih berdiri makam yang terawat, karena walaupun sebagai orang muslim namun tetap dirawat oleh masyarakat nonmuslim. Ini toleransi beragama yang sangat baik sekali,” jelasnya.
Penerapan Protokol Kesehatan
Setahun masa pandemi Covid-19, mengakibatkan pariwisata terpuruk. Untuk mencegah penyebaran Covid-19, diterapkan protokol kesehatan secara ketat mulai dari pintu masuk. Termasuk pemanfaatan tiket online untuk mengurangi kontak fisik wisawatan dengan petugas.
Chief Marketing Officer Tiket.com Gaery Undarsa mengatakan, telah mengeluarkan produk inovatif baru untuk menunjang kunjungan-kunjungan wisatawan. Dengan fasilitas ini, memesan tiket masuk ke Kelenteng Sam Poo Kong tidak perlu lagi mengantre di konter karcis dekat pintu masuk di lokasi.
“Kami percaya bahwa kemitraan berkelanjutan merupakan solusi kunci dalam mendorong pemulihan industri pariwisata Indonesia. Kolaborasi strategis antara kami dan Kemenparekraf pastinya akan membawa dampak positif, bagi para pencari nafkah di dalam industri pariwisata dan kami optimis akan pemulihan menyeluruh sepanjang tahun 2021,” tutur dia.
(Dewi Kurniasari)