Pesona Wisata Kelenteng Sam Poo Kong Semarang Tak Pudar Diterpa Corona

Taufik Budi, Jurnalis
Rabu 17 Maret 2021 18:31 WIB
Kelenteng Sam Poo Kong. (Foto: Taufik Budi/Okezone)
Share :

KELENTENG Sam Poo Kong di Kota Semarang Jawa Tengah, kerap dikunjungi wisatawan. Walau masa pandemi Covid-19 belum berakhir, pesona wisata di Jalan Simongan Semarang seolah tak pudar.

Kelenteng ini berlokasi di sebelah barat daya Kota Semarang. Jarak dari Simpang Lima yang menjadi jantung Kota Semarang, hanya berkisar 3,6 kilometer, atau ditempuh perjalanan sekira 10 menit. Bisa melintasi rute Jalan Pandanaran – Jalan Dr. Sutomo – Jalan Kaligarang - Jalan Simongan.

Bangunan megah dengan dominasi warna merah menjadi pemandangan pertama ketika memasuki halaman luas yang digunakan sebagai area parkir. Meski tertutup oleh pagar dan bangunan loket masuk, namun atap bangunan berdesain Tionghoa tampak menjulang.

Meski tak banyak, sejumlah wisatawan tampak mengantre masuk. Tiket masuk bisa dibeli dengan tunai maupun menggunakan jaringan online. Untuk mengakses semua area kelenteng pengunjung dikenakan tiket Rp20 ribu untuk dewasa, sedangkan anak-anak dibanderol Rp10 ribu.

Protokol kesehatan diterapkan secara ketat mulai dari pintu masuk. Seorang petugas berdiri mengawasi setiap pengunjung untuk memastikan cuci tangan dan dicek suhu tubuh. Pengunjung selalu jaga jarak, terlebih bila dari rombongan berbeda.

Hampir semua kawasan yang diakses wisatawan berupa area terbuka. Wisatawan bisa menyusuri jalan-jalan menuju ke kelenteng. Terdapat empat kelenteng yang bisa dikunjungi, yakni Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, dan Kelenteng Kiai Jangkar.

Masyarakat sekitar menyebut kelenteng ini sebagai Gedung Batu. Bentuknya mirip bangunan gua besar yang berada di sebuah bukit batu. Patung Laksamana Cheng Ho berdiri gagah di halaman kelenteng. Kawasan ini tak lepas dari sejarah ekspedisi pelayaran Cheng Ho yang diutus Kaisar China.

Meskipun Laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim, tetapi masyarakat keturunan Tionghoa menganggapnya sebagai dewa. Sebab, penganut agama Konghucu atau Taoisme menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Berikut catatan sejarah yang dihimpun selama perjalanan wisata di awal2021 berdasarkan informasi dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jawa Tengah.

Baca Juga: Wisata Candi Jawi, Jejak Kerajaan Singasari & Relief yang Menyisakan Misteri

Nakhoda Kapal Cheng Ho Sakit

 

Ekspedisi pelayaran Laksamana Cheng Ho ke Nusantara terhambat karena sejumlah awak kapal menderota sakit. Bahkan, juru mudi atau nakhoda kapal turut sakit, hingga Cheng Ho memutuskan untuk menepi dan singgah di pesisir utara Pulau Jawa.

“Sam Poo Kong ini dulunya tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho yang menjalankan ekspedisi pelayaran ke wilayah Nusantara. Pada saat itu dari perjalanannya mengalami beberapa hambatan karena ada salah satu anak buahnya yaitu nakhoda kapal atau juru mudi kapal menderita sakit. Sakitnya itu parah, kemudian sampai Laksamana Cheng ho memerintahkan semua anak buahnya untuk merapat ke daerah pesisir utara Jawa. Itulah dengan nama Semarang,” kata anggota HPI Jateng Heri Aprianto.

Belantara Kaya Rempah

Ekspedisi pelayaran itu berlangsung pada 1405. Diinformasikan daerah yang kini bernama Semarang merupakan belantara yang kaya rempah-rempah. Dengan bahan rempah tersebut diracik sebagai obat untuk menyembuhkan awak kapal yang sakit.

“Saat itu daerah Semarang ini merupakan belantara. Makanya di sini dulu bekas dermaga kecil, kemudian Cheng Ho tinggal di sini untuk mencari rempah-rempah untuk mengobati anak buahnya sakit yaitu diberi ramuan, kemudian sembuh. Kemudian Laksamana Cheng Ho justru melanjutkan perjalanannya pelajarannya ke Surabaya dan melewati Tuban. Di sana juga singgah ada kelenteng Tuban, itu juga sama merupakan peninggalan Laksamana Cheng Ho,” ungkapnya.

Menyebarkan Islam dan Mengajari Bertani

 

Bukan sekadar mencari rempah-rempah untuk pengobatan anak buahnya, Cheng Ho kala itu juga menyebarkan Agama Islam kepada penduduk setempat. Selain itu, Cheng Ho dan pasukannya juga mengajarkan cara bercocok tanama dan berdagang.

“Uniknya adalah Laksamana Cheng Ho di daerah Sam Poo Kong atau Simongan ini melakukan suatu kegiatan yang sangat bagus buat masyarakat wilayah sini. Salah satunya adalah mengajarkan bercocok tanam, mengajarkan agama Islam, dan mengajarkan perdagangan. Ini yang menjadikan nilai positif, sehingga masyarakat Kota Semarang ini pada saat itu menjadi lebih mengerti tentang cocok tanam sehingga menghasilkan pertanian yang melimpah,” jelasnya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya