Makam Kaisar Qin Shi Huang, China
Setelah kematiannya pada 210 Sebelum Masehi, Kaisar China Qin Shi Huang, pendiri dinasti Qin, dimakamkan dengan pasukan terakota yang terdiri sekitar 2000 tentara seukuran manusia dengan kuda dan kereta mereka di belakangnya.
Ribuan pasukan terakota tersebut dibuat untuk menemani dan menjaga Kaisar Qin Shi Huang di akhirat.
Makam ini awalnya tidak sengaja ditemukan oleh sekelompok petani pada Maret 1974, namun hanya para arkeolog saja yang diizinkan mengunjungi situs tersebut. Salah satu alasannya adalah karena kadar merkuri yang digunakan untuk menyegel makam sang Kaisar lumayan tinggi.
Katakomba, Paris
Katakomba Paris dibuat di kedalaman 20 meter di bawah tanah pada akhir abad ke-18. Situs tersebut dimaksudkan untuk menyimpan sisa-sisa manusia karena kurangnya ruang pemakaman di Paris. Namun setelah berabad-abad digunakan, makam tersebut ditutup karena dikhawatirkan menyebarkan penyakit dan kurangnya ruang penyimpanan.
Saat ini, Katakomba Paris menjadi osuarium terbesar di dunia. Tempat ini pernah dikunjungi oleh raja-raja yang terkenal pada masanya. Bahkan ini menjadi daya tarik wisata pada awal abad ke-19 dan telah dibuka secara teratur untuk umum sejak tahun 1874.
Situs ini pernah ditutup karena adanya insiden vandalisme pada September 2009 dan dibuka kembali di tahun yang sama pada tanggal 19 Desember. Saat ini, hanya sepanjang 1,7 kilometer dari panjang terowongan saja yang dibuka untuk pengunjung. Walaupun begitu, masih ada saja pengunjung yang berani untuk menjelajahi situs bawah tanah itu.
Gerbang Pluto, Turki
Gerbang Pluto adalah monumen Hierapolis, Turki. Terbuat dari batu yang didedikasikan untuk dewa Romawi Pluto.
Pada zaman dahulu, penduduk asli Hierapolis mengirim hewan ke kuil Pluto untuk menyaksikan ritual kematian supranatural. Mereka percaya bahwa Dewa Kematian, Pluto, yang membunuh hewan-hewan itu.
Namun belakangan ini diketahui, gua tersebut mengeluarkan gas beracun karena struktur tempat pembuatannya. Oleh karena itu, para pengunjung dilarang melihat dan mendekati situs ini dari dekat.
(Dewi Kurniasari)