Bahkan, dokter spesialis mengatakan bahwa ada banyak kondisi yang masih belum diketahui dan dokter maupun peneliti masih mempelajari seiring berjalannya waktu dan diagnosis dan perawatan yang diberikan.
Kerusakan indera penciuman telah menjadi hal yang khas pada Covid-19 sehingga beberapa peneliti menyarankan bahwa tes bau sederhana dapat digunakan untuk skrining dini, melacak kasus infeksi virus di negara yang memiliki laboratorium sedikit.
Bagi kebanyakan orang, masalah penciuman bersifat sementara, seringkali membaik dengan sendirinya dalam waktu seminggu tanpa perlu pengobatan. Tapi, di beberapa kasus pasien tetap mengeluhkan disfungsi tersebut meski sudah dinyatakan sembuh.
"Pada beberapa kasus, hilangnya bau ini bertahan 6 bulan lamanya setelah infeksi pertama kali menyerang. Yang paling lama, kata banyak dokter, dialami selama satu tahun penuh," tulis laporan tersebut.
Masalah ini memicu kekhawatiran dokter bahwa tingkat depresi meningkat. "Mereka kehilangan bagian dari hidupnya," kata Dr Thomas Hummel dari University Hospital di Dresden, Jerman.
"Orang-orang ini punya masa depan yang cerah, tapi kemampuan menciumnya hilang dan itu membuat diri mereka merasa tak sempurna," tambahnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)