TIM WHO saat ini diketahui tengah berada di Wuhan, China untuk penyelidikan asal-usul dari virus corona Sars-CoV-2, penyebab penyakit Covid-19. Sejauh ini, ada beberapa dugaan asal mula virus Corona tersebut.
Otoritas China pun mengklaim, produk makanan beku kemungkinan bisa menjadi dalang di balik penyebaran Covid-19, usai merebaknya wabah corona di pasar makanan grosir di Beijing pada Juni 2020.
Ibu kota China, Beijing sendiri diketahui awalnya sukses melewati 55 hari tanpa angka kasus baru. Sampai akhirnya, muncul 300 kasus yang terkait dengan pasar makanan grosir tersebut.
Mengutip South China Morning Post, para penyidik termasuk dari CDC Beijing, diketahui telah melaporkan temuannya yakni penemuan adanya kesamaan genetik, antara wabah dan sisa-sisa virus yang ditemukan pada ikan salmon yang diimpor oleh sebuah perusahaan yang menjual ke kios makanan di pasar terkait dengan kasus infeksi di awal-awal.
Sayangnya, masih belum jelas apakah virus yang ditemukan di ikan salmon itu bisa cukup kuat untuk membuat manusia jatuh sakit. Meski secara perhitungan resiko, disebutkan ada.
Terkait merebaknya wabah di Beijing, otoritas berwenang di China sendiri disebutkan menghubungan beberapa kasus infeksi di negara tersebut dengan produk makanna impor.
November 2020 para pejabat setempat menyimpulkan bahwa kepala babi dari Amerika Utara telah menginfeksi dua orang pekerja, setelah menemukan virus yang mirip secara genetik di tanah di mana kepala babi secara tidak sengaja terjatuh. Di satu sisi, pihak CDC Tianjin tidak mengatakan apakah kepala babi itu dinyatakan positif terkena virus atau tidak.
Peneliti virus mengatakan, mungkin saja para pekerja bisa terinfeksi ketika melakukan proses pengemasan yang telah terpapar partikel droplet dari orang yang sakit batuk dan bersih di negara lain. Tapi, peluang ini dikatakan sangat rendah.
Sekadar informasi, data statistik China pada Januari 2021 menunjukkan hanya sekitar 0,36 dari setiap 10.000 sampel yang diambil dari makanan atau kemasannya yang dinyatakan positif terkena virus. Dengan catatan, "positif" ini tidak selalu berarti cukup kuat untuk bisa menginfeksi seseorang.
(Martin Bagya Kertiyasa)