Dari Sabu ke Ekstasi, Psikolog: Ridho Rhoma Sulit Mengontrol Diri

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Senin 08 Februari 2021 13:30 WIB
Ridho Rhoma (Foto: Inst Ridho Rhoma)
Share :

Apa yang terjadi pada Ridho Rhoma membuktikan bahwa orang yang sudah direhabilitasi tetap bisa terjerumus kembali. Salah satu faktornya adalah tidak ada niat untuk benar-benar sembuh.

Parahnya lagi, jenis narkoba yang dipakai Ridho Rhoma berbeda dari apa yang dia pakai pertama kali. Ya, pada Maret 2017 putra Rhoma Irama tersebut menggunakan sabu, sedangkan 2021 dia mencoba narkoba jenis lain yaitu ekstasi.

 

"Apa yang terjadi pada Ridho Rhoma itu parah banget. Saya enggak habis pikir, di usianya yang sudah tidak lagi remaja bahkan pernah direhab sebelumnya, tidak membuat dia mikir sehat," ungkap Psikolog Klinis Meity Arianty, Senin (8/2/2021).

Lantas, apakah eksplorasi jenis narkoba yang Ridho Rhoma lakukan itu karena dia takut kehilangan 'rasa enak' yang sebenarnya salah besar.

Ditanya apakah Ridho Rhoma tak takut untuk lepas dari jeratan narkoba, Menurut Mei yang pernah praktek kerja di BNN Lido Sukabumi, Jawa Barat, Ridho Rhoma bukannya tidak takut untuk lepas dari narkoba.

"Dia hanya sudah merasa nyaman menggunakan narkoba dan dirasa membantu membuatnya bebas dan lepas dari beban masalah-masalah yang di hadapinya. Dia juga seakan enggak peduli dengan efeknya atau masalah di kemudian hari, bukan karena enggak mikir ke arah situ namun dia masih sulit mengontrol dirinya," ungkapnya.

Eksplorasi tersebut diduga karena ada rasa 'enak' yang diterima Ridho Rhoma dan itu kemungkinan bisa membantunya melepaskan beban hidupnya atau masalah lain.

Di sisi lain, apa yang dilakukan pada pencandu narkoba untuk membuatnya menghilangkan perasaan 'enak' yang sesat tersebut?

Mei menjelaskan, pada umumnya mereka dibuat untuk memahami mengapa harus menjauhi narkoba, apa manfaatnya, dan diajak berpikir logis. Tidak hanya itu, mereka juga dikuatkan secara psikologis bahwa kebutuhan menggunakan narkoba untuk tenang atau merasa lebih kuat itu pikiran yang salah.

Lebih lanjut, pikiran para pencandu narkoba juga akan diarahkan ke kegiatan yang bermanfaat sehingga fokusnya teralihkan ke hal yang lebih positif. "Pengalihan ini penting supaya otaknya enggak hanya mikir tentang narkoba dan mulai memperbaiki diri dengan kegiatan yang lebih berfaedah," tambah Mei.

Hal penting dari itu semua, kata Mei, ketika seseorang sudah diperbolehkan keluar dari pusat rehabilitasi, diharapkan orang tersebut sudah menjadi pribadi yang baru. Karena itu, sangat penting untuk mengatur ulang lingkungan pertemanan dan menguatkan terus niat untuk sembuhnya.

"Apa yang terjadi pada Ridho Rhoma bisa jadi pelajaran untuk kasus-kasus selanjutnya bahwa apakah memang proses rehabilitasinya kemarin sudah efektif atau belum. Apa yang harus dievaluasi," katanya.

"Hal penting lainnya adalah memahami motivasi mereka karena itu sangat menentukan apakah mereka akan kembali atau benar-benar berhenti menggunakan narkoba," tambah Mei.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya