Produksi kain tenun Baduy untuk melayani konsumen itu berkisar antara dua sampai lima kain tenun dengan pendapatan Rp1,2 juta per bulan. Selama ini, dirinya juga masih bertahan menjual aneka produk kerajinan Baduy, meski kunjungan wisatawan ditutup.
"Kami tetap bersikap sabar, sebab adanya pandemi Covid-19 merupakan ujian," katanya menjelaskan.
Sementara itu, tetua masyarakat Suku Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Jaro Saija mengatakan, tak kurang 2.000 pelaku kerajinan masyarakat Suku Baduy terancam gulung tikar dengan adanya pandemi Corona itu.
Mereka yang masih bertahan memproduksi kerajinan dan pedagang di kawasan Baduy sangat menurun karena produknya tidak laku.
Bahkan, saat ini dipastikan pengunjung wisatawan dilarang memasuki kawasan pemukiman Baduy karena diberlakukan PSBB itu.
"Kami berharap penyebaran pandemi Corona segera berakhir dan kunjungan wisatawan kembali normal," kata Saija.
(Rizka Diputra)