Dia melanjutkan, kalau memang tes GeNose menunjukkan hasil positif maka untuk keakurasian diagnosisnya harus dilakukan tes lanjutan. "Lagipula, mesin GeNose dilatih dengan setting rumah sakit dan validasinya pun di rumah sakit. Jadi, kalau digunakan untuk populasi umum, saya merasa itu salah kaprah," terangnya.
Sekali pun hasilnya negatif, sambung Dicky, dia meragukannya karena memang alat itu sekali lagi bukan untuk populasi umum, tetapi pasien yang dirawat di rumah sakit.
"Uji klinis fase 1 dan 2-nya tidak melibatkan orang dengan gejala ringan bahkan asimptomatik. Jadi, ketika dipakai di populasi umum, kemungkinan 'false negative'-nya besar," tambah Dicky.
(Martin Bagya Kertiyasa)