MULAI akhir pekan kemarin, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menerapkan tes GeNose untuk skrining Covid-19. Alat tersebut, mengandalkan napas untuk mendeteksi adanya virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19.
Sudah ada empat stasiun kereta api yang menyediakan tes GeNose, yaitu Stasiun Gambir dan Pasar Senen di Jakarta, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Tugu Yogyakarta. Nantinya, pemeriksaan Covid-19 dengan GeNose juga akan ditempatkan di terminal.
Alat tersebut dipercaya dapat mendeteksi ada atau tidaknya virus penyebab Covid-19 dari napas yang diembuskan ke dalam kantung steril. Ya, jadi seseorang harus mengeluarkan napasnya ke dalam kantung tersebut dan kemudian alat tes akan mengujinya.
Nah, jika hasil tes GeNose menyatakan positif, perlukah melakukan tes swab PCR lagi untuk memastikan diagnosis?
Menurut Ahli Epidemiologi Griffith University, Australia, Dicky Budiman, yang perlu dipahami masyarakat ialah penegakkan diagnosis Covid-19 yang bisa digunakan adalah tes rapid Antigen dan swab PCR.
"Rapid Antigen dan swab PCR itu sudah diakui Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan menjadi standar seluruh fasilitas kesehatan di dunia," katanya pada MNC Portal.
Dia melanjutkan, kalau memang tes GeNose menunjukkan hasil positif maka untuk keakurasian diagnosisnya harus dilakukan tes lanjutan. "Lagipula, mesin GeNose dilatih dengan setting rumah sakit dan validasinya pun di rumah sakit. Jadi, kalau digunakan untuk populasi umum, saya merasa itu salah kaprah," terangnya.
Sekali pun hasilnya negatif, sambung Dicky, dia meragukannya karena memang alat itu sekali lagi bukan untuk populasi umum, tetapi pasien yang dirawat di rumah sakit.
"Uji klinis fase 1 dan 2-nya tidak melibatkan orang dengan gejala ringan bahkan asimptomatik. Jadi, ketika dipakai di populasi umum, kemungkinan 'false negative'-nya besar," tambah Dicky.
(Martin Bagya Kertiyasa)