Sebelum pandemi Covid-19, pariwisata menjadi mesin besar penghasil devisa. Pada 2018, sektor ini menghasilkan devisa sekitar USD19,2 Miliar. Tumbuh sekitar 77,5% dari periode sebelumnya. Sebab, pada 2014 devisa dari sektor pariwisata sekitar USD11,1 Miliar. Angka tersebut tidak lepas dari positifnya pergerakan wisman di Indonesia.
Sepanjang 2018, arus wisman mencapai 15,8 Juta orang. Pertumbuhannya 67,6% menurut periode 2014-2019. Jumlah itu tumbuh pesat karena pada tahun 2014 pergerakannya hanya 9,43 Juta orang wisman. Pertumbuhan menurut periode sebelumnya hanya 39,2%. Untuk jumlah perjalanan wisnusnya sekitar 303 Juta orang.
"Upaya pemulihan industri pariwisata sepanjang pandemi Covid-19 terus dilakukan. Hal ini dalam upaya agar ekonomi terus berdenyut. Kami sangat mengapresiasi kebijakan Korminas mendukung sektor pariwisata. Bagaimanapun, kegiatan Korminas dekat dengan aktivitas pariwisata. Relevan dengan wisata bugar, apalagi dalam situasi pandemi seperti saat ini," jelas Menparekraf, Sandiaga Uno.
Baca juga: Menparekraf Sandiaga Uno Paparkan Strategi Pemulihan Pariwisata Indonesia di Forum ASEAN
Lebih luas, pariwisata sebelum pandemi Covid-19 mampu menampung tenaga kerja hingga 12,8 Juta orang pada 2018. Untuk 2014, daya tampungnya sekitar 10,1 Juta orang tenaga kerja.
Secara global, pertumbuhan pariwisata Indonesia 5,6% atau tercepat ke-9 di Dunia. Untuk regional ASEAN tumbuh 7,4%, menjadi yang tercepat pertama. Posisi Travel and Tourism Competitiveness Index di strip 40 pada 2019, padahal sebelumnya 70 (2013).
"Kami ucapkan terima kasih atas inisiatif Korminas memajukan pariwisata selama ini. Kita akan terus berkolaborasi," tegas Sandiaga.
(Rizka Diputra)