Karena waktu dan proses yang singkat, Prof Zubairi menyatakan, tentu ini amat membantu pekerjaan di laboratorium, karena akan lebih banyak hasil tes yang diperoleh. "Tes sativa juga memiliki tingkat akurasi sebesar 94 persen, sebanding dengan hasil tes berbasis swab nasofaring (NP)," terangnya.
Keuntungan lain dari tes sativa adalah pengambilan sampel tak harus di rumah sakit, klinik, atau fasilitas kesehatan lainnya. "Ya, seseorang bisa memakai kurir khusus untuk mengirim sampelnya ke lab," kata Prof Zubairi.
Hal tersebut berbeda dengan pengambilan sampel swab PCR atau swab antigen. Ya, Anda mesti datang ke fasilitas kesehatan dan pengambilan sampel dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih untuk melakukannya. Lagipula, pengambilan sampel dengan di-swab tak nyaman karena merangsang batuk dan bersin.
Lantas, apakah Prof Zubairi merekomendasikan tes air liur diterapkan di Indonesia?
"Menurut saya layak dan bisa. Apalagi tes berbasis air liur ini telah mengantongi izin Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat (FDA)," ucap Ketua Satgas IDI tersebut.
(Dyah Ratna Meta Novia)