4. Penduduknya hidup santai
Pulau Palmerston adalah representasi kehidupan sangat santai. Di waktu luang mereka, penduduk akan membuat perhiasan, bermain bola voli, atau berenang. Namun, mereka memiliki listrik dan bahkan Internet, tetapi hanya untuk beberapa jam sehari. Beberapa yang beruntung bahkan memiliki ponsel dan bahkan ada TV satelit.
Pada hari Minggu ketika lonceng gereja berdering untuk memanggil orang-orang untuk kebaktian, setelah itu tidak ada pekerjaan atau permainan yang dilakukan karena pulau itu perlahan-lahan mulai memasuki malamnya yang nyaman.
Penduduk lokal sangat ramah kepada wisatawan, jika Anda mengunjungi pulau Palmerston, penduduk tersebut akan “mengadopsi” Anda menjadi anggota keluarganya. Ia akan menjadi guide Anda selama berada di Palmerston. Di rumah penduduk itu pulalah Anda akan menginap sebab memang nggak ada hotel di sana.
5. Generasi mudanya ingin pindah
Sejumlah besar mantan penduduk telah pergi karena ingin menghindari pernikahan sedarah. Ada kasus di mana orang menikah hanya untuk kemudian mengetahui bahwa mereka memiliki hubungan dekat.
Seperti yang pernah diakui Walikota Palmerston kepada media: “Ayah (istrinya) dan ayah saya adalah saudara. Saya tidak mengetahuinya tetapi pada saat kami mengetahuinya, semuanya sudah terlambat dan kami sudah memiliki anak ... Tidak ada orang di pulau itu, itulah sebabnya perkawinan silang sedang berlangsung. "
Inilah salah satu alasan mengapa populasi pulau ini terus menurun karena kaum muda ingin memiliki lebih banyak pilihan untuk menikah dan melahirkan anak yang sehat.
(Salman Mardira)