Menyelisik Terapi Plasma Konvalesen Covid-19, Dinilai Ampuh Percepat Penyembuhan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Selasa 05 Januari 2021 08:00 WIB
Ilustrasi pasien covid-19. (Foto: Shutterstock)
Share :

TERAPI plasma konvalesen kembali ramai dibahas masyarakat Indonesia karena dinilai ampuh mempercepat penyembuhan pasien covid-19. Puncaknya ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membagikan sebuah video yang menampilkan rekaman seorang dokter sedang dirawat di rumah sakit karena terpapar virus corona.

Dalam video tersebut, dokter yang diketahui bernama lengkap Khairul Hadi itu memberikan testimoni setelah menjalani terapi plasma konvalesen di RS Moewardi sejak lima hari lalu.

Baca juga: Proses Terapi Plasma Konvalesen, Mulai dari Donor hingga Diberikan kepada Pasien Covid-19 

"Saya sudah mendapatkan terapi plasma kovalesen dua kantong lima hari lalu. Terasanya setelah dapat terapi saya langsung mengalami perbaikan yang luar biasa meski belum sembuh total," kata dokter spesialis kulit dan kelamin di Kota Solo, Jawa Tengah, itu.

Terkait hal ini, dr Elida Marpaung M Biomed yang merupakan Tim Peneliti Plasma Konvalesen Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan bahwa terapi plasma konvalesen memang telah lama digunakan para ilmuwan kesehatan untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan virus.

Contohnya pandemi flu Spanyol yang dinilai memiliki beberapa kesamaan dengan pandemi covid-19. Kala itu para ilmuwan dan ahli kesehatan dunia menggunakan plasma atau bagian darah yang diambil dari orang-orang yang telah sembuh dari flu tersebut, lalu mentransfusikannya kepada pasien yang masih terinfeksi.

"Dalam beberapa kasus, metode ini dinilai mampu menghilangkan atau merilis sebagian virus dari tubuh pasien, sehingga membantu mempercepat proses penyembuhan serta menekan angka kematian," ungkap dr Elida.

Baca juga: Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu/Kg, Stok di Pasar Langka

Lantas, bagaimana metode terapi plasma konvalesen pada pasien covid-19?

Secara garis besar, pola yang digunakan hampir sama dengan terapi plasma darah pada flu Spanyol, namun ada beberapa parameter yang harus diperhatikan dalam kasus covid-19, baik dari segi pendonor maupun pasien.

Dari segi donor misalnya. Derajat atau tingkat keparahan penyakit yang pernah diderita pendonor harus diketahui secara rinci. Apakah mereka mengalami gejala ringan, sedang, atau berat. Ini sangat penting karena nantinya memengaruhi fitur antibodi yang mereka miliki.

"Artinya begini, bila kita mengambil donor dari dua orang yang pernah terinfeksi covid-19 dengan gejala ringan dan berat, tentu fitur antibodi mereka akan berbeda. Nah, dalam penelitian pasien yang sempat menggunakan bantuan ventilator atau bergejala berat, fitur antibodinya jauh lebih baik atau lebih tinggi, dibandingkan dengan gejala ringan atau pasien yang melakukan isolasi mandiri," kata dr Elida.

Selanjutnya dari segi pasien, proses terapi harus dilakukan sesuai dengan indikator yang kondisi mereka masing-masing. Dalam hal ini yang berhak menentukan kapan transfusi plasma konvalesen dapat dilakukan hanya bisa diputuskan oleh dokter yang mengetahui riwayat pasien.

Bila dokter telah menentukan waktu yang tepat untuk melakukan terapi atau transfusi, pasien biasanya akan menerima sekira 400 mililiter plasma darah yang dibagi menjadi dua kantung. Ada juga penelitian yang menyebut 1 kantung atau 200 ml plasma darah saja sudah cukup kuat.

Baca juga: Kemenkes Dorong Dinkes Terapkan Terapi Plasma Konvaselen untuk Pasien Covid-19 

Namun, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal ini, mengingat setiap pasien memiliki gejala dan kondisi yang berbeda-beda.

"Secara garis besar 400 ml dengan dua kali transfusi. Proses transfusinya ada yang 6 jam, 12 jam, ada juga yang 24 jam. Perlu diingat terapi plasma konvalesen itu hanya terapi pendukung, bukan utama atau terapi tunggal. Jadi ada beberapa indikator lain yang memengaruhi," ujar dr Elida.

Setelah pasien menjalani terapi plasma konvalesen, dokter akan memberikan penilaian terkait efektivitas terapi tersebut dalam kurun waktu 24 jam.

"Beberapa penelitian baik di China dan beberapa negara lainnya, dampak dari terapi ini dapat menekan angka kematian yang lebih signifikan dan mempercepat durasi rawat pasien," tandasnya.

(Hantoro)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya