Maka dari itu, banyak kasus ditemui seseorang yang awalnya negatif saat dites rapid antigen, tapi ketika dites swab PCR hasilnya positif Covid-19.
“Permasalahannya adalah tidak semua orang yang terkonfirmasi positif PCR nantinya akan terdeteksi dengan pemeriksaan rapid antigen. Ini adalah suatu kekurangan alat rapid antigen, dengan hasil pemeriksaan rapid antigen negatif tentu tidak dapat kita singkirkan orang tersebut bebas dari terinfeksi virus SARS-CoV-2,” tambahnya.
dr. Muhammad menegaskan sebetulnya penelusuran lebih lanjut terhadap pasien itu sangat diperlukan. Tak hanya contact tracing (penelusuran kontak dekat) tapi juga catatan medis, hingga keterangan aktivitas sehari-hari.
Baca juga: 4 Hari Jadi Menteri, Sandiaga Sudah Ditinggal Istri: Ini Pertama Kali Aku Sendiri
“Makanya diperlukan penelusuran lebih lanjut, apakah pasien punya riwayat kontak dengan pasien positif PCR SARS-CoV-2, apakah memiliki riwayat gejala yang mengarah ke gejala infeksi Covid-19, apa ada riwayat kegiatan aktivitas harian bertemu dengan pasien, dokter, atau bertemu banyak orang, dan lain-lain. Sehingga pada akhirnya kita sebagai dokter harus menganjurkan untuk konfirmasi dengan pemeriksaan PCR,” pungkas dr. Muhammad.
(Dyah Ratna Meta Novia)