Seberapa Efektif Rapid Antigen Mendeteksi Covid-19?

Pradita Ananda, Jurnalis
Senin 28 Desember 2020 11:53 WIB
Pandemi Covid-19 (Pixabay)
Share :

Saat ini rapid antigen tengah jadi primadona di kalangan masyarakat Indonesia. Mengingat, saat ini rapid antigen menjadi syarat mutlak seseorang diperbolehkan melakukan perjalanan, berpindah dari suatu daerah menuju titik daerah lain.

Demi memastikan orang-orang yang melakukan perjalanan tersebut adalah orang-orang yang sehat. Sistem transportasi umum pun kini mewajibkan semua penumpangnya mempunyai surat rapid antigen dengan hasil negatif.

 

Lalu sebetulnya, seberapa efektif kah rapid tes antigen untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 pada seseorang?

dr Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, Dokter Spesialis Patologi Klinik, Primaya Hospital mengatakan, nyatanya alat rapid antigen itu sensitivitasnya rendah (tingkat seberapa sensitif alat tersebut mampu mendeteksi suatu antigen dengan kadar terendahnya), jika di dalam tubuh orang yang diperiksa, jumlah virusnya sedikit.

“Nilai sensitivitas suatu alat rapid antigen itu rendah, jika dalam tubuh pasien jumlah virus SARS-CoV-2 yang menginfeksi itu sangat rendah atau sedikit (biasanya pada pasien terkonfirmasi positif PCR namun tanpa gejala). Sensitivitas alat berangsur meningkat sejalan dengan makin meningkatnya jumlah virus SARS-CoV-2 di tubuh pasien,” kata dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK kala dihubungi Okezone, baru-baru ini.

Hal ini menandakan, orang dengan hasil rapid antigennya negatif, bukan berarti orang tersebut tidak terinfeksi Covid-19.

Maka dari itu, banyak kasus ditemui seseorang yang awalnya negatif saat dites rapid antigen, tapi ketika dites swab PCR hasilnya positif Covid-19.

“Permasalahannya adalah tidak semua orang yang terkonfirmasi positif PCR nantinya akan terdeteksi dengan pemeriksaan rapid antigen. Ini adalah suatu kekurangan alat rapid antigen, dengan hasil pemeriksaan rapid antigen negatif tentu tidak dapat kita singkirkan orang tersebut bebas dari terinfeksi virus SARS-CoV-2,” tambahnya.

dr. Muhammad menegaskan sebetulnya penelusuran lebih lanjut terhadap pasien itu sangat diperlukan. Tak hanya contact tracing (penelusuran kontak dekat) tapi juga catatan medis, hingga keterangan aktivitas sehari-hari.

 Baca juga: 4 Hari Jadi Menteri, Sandiaga Sudah Ditinggal Istri: Ini Pertama Kali Aku Sendiri

“Makanya diperlukan penelusuran lebih lanjut, apakah pasien punya riwayat kontak dengan pasien positif PCR SARS-CoV-2, apakah memiliki riwayat gejala yang mengarah ke gejala infeksi Covid-19, apa ada riwayat kegiatan aktivitas harian bertemu dengan pasien, dokter, atau bertemu banyak orang, dan lain-lain. Sehingga pada akhirnya kita sebagai dokter harus menganjurkan untuk konfirmasi dengan pemeriksaan PCR,” pungkas dr. Muhammad.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya