"Semua bahan kita beli sendiri. Contohnya karena ini masakan ada yang pedas, kita beli cabainya sendiri. Kita pilih kualitasnya yang bagus, karena kalau di pasar kadang ada yang menawarkan cabai yang kurang bagus," jelas Yanti.
"Bahkan untuk sambel gado-gado sendiri, kita goreng kacangnya sendiri dan kita tumbuk sendiri. Kita juga diajarkan untuk tidak bosan mengasah lidah supaya peka, karena walaupun ada orang yang masak, tapi finishing touchnya kita sendiri. Jadi one day, kalau kita ditinggkalkan oleh tukang masaknya, kita masih bisa bertahan," ujarnya menambahkan.
Selain bahan dan rasa masakan, lanjutnya, kualitas nasi yang dibuat pun selalu dijaga kualitasnya. Bahkan, ada satu orang di RM Kentjana yang bertugas secara khusus, untuk memasak nasi agar memiliki tekstur yang dianggap pas dengan lidah pelanggan.
"Untuk yang masak nasi kita tempatkan satu orang. Dia yang khusus mengurus nasi. Supaya kualitasnya terjaga. Kita masak nasi pun masih pakai langseng. Bukan pakai rice cooker," ungkapnya.
Ia menilai, karena kualitas yang selalu dijaga, pelanggan yang pernah berkunjung ke RM Kentjana pasti ada yang menjadi pelanggan tetap. Para pejabat serta beberapa instansi pemerintahan atau swasta juga pernah menyambangi RM Kentjana. Sebut saja Agung Laksono, Titiek Puspa, dan mantan Mendag Enggartiasto Lukita.
"Kami ingin milenial juga tahu kalau rumah makan ini punya cerita menarik," kata Yanti menandaskan.
(Rizka Diputra)