PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) merombak Kabinet Indonesia Maju. Sandiaga Uno yang jadi rivalnya di Pilpres 2019 kini ditunjuk sebagai sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) yang baru, menggantikan Wishnutama Kusubandio.
"Beliau (Sandiaga Uno) akan kita berikan tanggung jawab untuk memimpin Kemenparekraf," kata Jokowi saat memperkenalkan Sandi sebagai Menparekraf dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/12/2020).
Baca juga: Sandiaga Uno Gantikan Wishnutama sebagai Menparekraf
Sandiaga Uno pernah menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta sejak 16 Oktober 2017. Namun, baru setahun mengemban amanah, pria kelahiran Rumbai, Pekanbaru, 28 juni 1969 ini mundur lalu untuk maju di Pilpres 2019. Dia menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.
Sandiaga merupakan seorang pengusaha yang sukses. Ia pendiri PT Saratoga Investama Sedaya yang bergerak di bidang infrastruktur dan sumber daya alam.
Suami Nur Asia dan anak dari Razif Halik Uno dan Rachmini Rachman Uno merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan sekitar USD795 juta.
Jenjang pendidikan Sandiaga dimulai di SD PKSD Bulungan, kemudian lanjut ke SMP 12 Wiajaya Jakarta, SMA Pangudi Luhur, Bachelor of Business Administration di Wichita State University (1990) dan Master of Business Administration di George Washington University (1992).
Sandiaga mengawali karirnya sebagai karyawan Bank Summa pada 1990 sebelum mendapat beasiswa untuk kuliah di George Washington university dengan IPK 4,00.
Baca juga: Sandiaga Uno Jadi Menparekraf, Wishnutama: Saya Yakin Pariwisata Segera Bangkit
Infobiografi merunut, pada 1993, Sandiaga bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus di MP Holding Limited Group. Pada 1995, ia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat sebagai Executive Vice President NTI Resources Ltd. dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan. Namun adanya krisis moneter pada tahun 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Sandi pun akhirnya tidak bisa lagi meneruskan pekerjaanya.
Sandi memutuskan kembali ke Indonesia dengan predikat pengangguran. Langkah awal yang ia lakukan setelah kembali ke Indonesia yaitu mencari pekerjaan baru, namun hasilnya tidak seperti yang ia harapkan. Lamaran pekerjaannya ditolak oleh 25 perusahaan. Dari pengalaman inilah ia kemudian merasa harus merubah mindsetnya dari seorang karyawan menjadi seorang pengusahan.