Hasilnya berupa tepung sagu basah yang kemudian masih harus diendapkan hingga mendapatkan tepung sagu yang berkualitas, kata Mama Aline. Biasanya proses pengendapannya memakan waktu seharian.
Masyarakat di Kampung Adat Yobeh biasanya juga menjual tepung sagu basah ke pasar-pasar tradisional. Mereka menjualnya seharga Rp250.000 sampai dengan Rp300.000 per karung.
Untuk satu pohon sagu biasanya mereka dapat menghasilkan enam sampai dengan tujuh karung tepung sagu basah, dengan proses tokok sagu bisa mencapai waktu dua hingga tiga hari, tergantung pada alat dan jumlah pekerja.
Kerja sama masyarakat saat menokok sagu mencerminkan kekompakan dan sikap gotong royong di antara warga Kampung Yobeh, ujar Mama Aline.
Hidup dari sagu
Filosofi “Hidup dari Sagu” memberikan arti bahwa sagu menjadi jantung hidup bagi Masyarakat Adat Kampung Yobeh karena setiap bagian tanaman sangat berarti bagi kehidupan mereka.
Mama-mama di Kampung Yobeh bercerita bahwa setiap bagian dari pohon sagu sangat bermanfaat. Bagian daun sagu mereka anyam untuk dijadikan atap, kulit pohonnya dijadikan lantai, batang pohon sagu dapat pula dijadikan tiang rumah yang keseluruhannya dapat bertahan hingga 10 tahun, sedangkan pati sagu dan ulat sagu dijadikan sumber makanan mereka.
Dulu rumah-rumah yang dibuat dari pohon sagu itu yang ditempati hampir oleh seluruh masyarakat Sentani, namun perkembangan zaman mengubah kebiasaan itu, sehingga masyarakat beralih menggunakan bahan kayu lain.
"Itulah sebabnya sagu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat lokal di Papua," ujar Mama Aline.
Ekowisata Hutan Sagu Huruwakha memberikan warna baru untuk pariwisata Jayapura. Bukan hanya sensasi menikmati lengketnya papeda di tengah hutan sagu, ilmu dari kearifan masyarakat Kampung Yobeh melindungi hutan sagu pun bisa dibawa pulang.
(Salman Mardira)