Assistant Relation Guest Manager Hotel Alila, Karangasem, Nyoman Ayu Puspita Dewi berujar, saat ini pihaknya fokus beralih pada wisatawan domestik. Padahal, hotel itu merupakan salah satu hotel di Kabupaten Karangasem yang dominan melayani wisatawan asal Australia dan Eropa.
"Tapi kondisi Pandemi Covid-19, turis Eropa maupun Australia bisa dibilang sangat sedikit. Makanya kita gencar mendorong domestik wisatawan dengan memberikan berbagai promo dan potongan menarik," ujarnya.
Senada, seorang pemandu wisata Bali, I Wayan Susapta menuturkan, semua pelaku usaha sektor wisata Bali jelas terpukul oleh hantaman pandemi Covid-19. Kondisi tersebut lebih buruk sejak tragedi Bom Bali pada 2002 lalu. Alhasil, Wayan pun terpaksa alih profesi berjualan bahan makanan pokok.
"Ini yang terparah kami rasakan. Kalau kejadian Bom Bali kita bisa pulih cepat. Namun sejak kondisi Pandemi Covid-19 merata di semua tempat di Bali. Saya beryukur karena masih jualan sembako. Tapi teman-teman yang lain ada yang serabutan sampai ikut program padat karya tunai, dan itu cukup membantu bagi kami. Sebagian lainnya banyak yang pulang kampung, terutama pemandu muda-mudi," ujar Wayan.
Wayan berharap apapun program pemerintah di Bali harus didukung oleh semua sektor pariwisata Bali. Sebab dengan begitu tingkat kepercayaan masyarakat juga semakin tinggi untuk datang ke Bali. "Makanya setiap hotel dan tempat wisata di Bali itu ketat dalam pelaksanaan protokol kesehatan," pungkas Wayan.
(Rizka Diputra)