Ruang bebas rokok itu terlihat cukup nyaman. Meja dan kursinya tertata rapi, sementara gorden di jendela dipasang dengan warna yang cocok dengan warna dinding. Lukisan-lukisan di dinding juga menggambarkan suasana Arab, tentu dengan ciri pohon kormanya.
"Sesuai dengan kebiasaan masyarakat Arab, yang makan siangnya kira-kira pukul 19.00, restoran ini juga selalu ramai pada sore dan malam hari," imbuh Firjah. Banyak menu bisa dipilih di restoran ini.
Menu paling disukai pengunjung adalah menu kuzi dan kebuli. Kuzi merupakan daging kambing panggang yang disajikan bersama nasi kebuli.
"Hidangan khas Arab yang kami sajikan semua tidak menggunakan bumbu penyedap atau vetsin. Karena semua penyedap rasa digantikan dengan kaldu ayam yang membuat menu khas Arab tersebut makin menggugah selera," jelas sang manajer.
(Foto: Instagram/@rabbasss)
Keunikan lain dari menu otentik Arab yang disajikan di Sindbad adalah, bumbu-bumbu yang digunakan seluruhnya dibuat secara khusus di dapur restoran. Khusus untuk menu berbahan baku daging kambing, koki restoran selalu membubuhinya dengan samin, yaitu sejenis minyak yang didapat dari tubuh kambing ataupun onta.
"Di restoran ini kami menggunakan banyak bumbu unik. Misalnya minyak samin onta dan limun kering agar aroma nasi menjadi lebih kuat," tukas Chef Sindbad Restaurant and Cafe Ferial.
(Dewi Kurniasari)