REMBANG petang di kaki Gunung Merbabu bukan sekadar tanda memasuki gelapnya malam. Di sudut Dusun Kenteng Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sekelompok anak muda mengabaikan hawa dingin yang mulai menusuk tulang.
Mereka sibuk menyiapkan beragam menu tradisional khas angkringan. Aneka gorengan, nasi bakar, beragam satai, mi godok, hingga minuman hangat menjadi menu wajib bagi pelanggan. Sekilas memang tidak ada beda dari menu angkringan pada umumnya di jalanan.
Namun, wisata kuliner angkringan ini memiliki konsep unik karena menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Pengunjung yang datang wajib mengenakan masker dan mencuci tangan di tempat khusus bertuliskan “Pembunuh Virus”.
Uniknya lagi, mereka tidak duduk berjejer melainkan masuk ke tiap-tiap tenda dome yang biasa digunakan untuk berkemah. Makanan yang dipesan akan diantar langsung oleh petugas ke tenda-tenda konsumen.
Jarak antar-tenda mencapai 1,5 meter. Di depan masing-masing tenda disediakan meja dan tikar, jika pengunjung ingin menikmati sajian kuliner, sembari menyaksikan pemandangan alam. Sebab, hamparan tenda-tenda perkemahan ini berada di tengah hutan pinus yang dihiasi lampu-lampu, sehingga terlihat eksotis.
“Saya tahu sini dari Instagram sih. Terus ada temen yang sudah pernah ke sini, lalu dikasih tahu kalau ada spot kuliner baru. Jadi ya penasaran gitu, soalnya belum pernah nyoba kuliner di spot tenda-tenda. Makan di dalam tenda,” kata seorang pengunjung, Florentina Dwi Saputri, belum lama ini.
Baca juga: Bukan Biaya, Ini yang Jadi Masalah bagi Jamaah Umrah Indonesia
Berawal dari penasaran, gadis yang menempuh pendidikan tinggi di Kota Salatiga ini mencari tahu lokasi angkringan tenda yang viral di media sosial. Setelah tiba di lokasi, dia terpaksa menelan pil pahit karena gagal menjajal kuliner dalam tenda.
“Awal ke sini dulu itu hari Jumat. Saya enggak tahu jadwalnya, ternyata kalau hari Jumat tutup. Setelah tanya-tanya petugas, bukanya hari Senin sampai Kamis. Makanya baru kali ini bisa kulineran di sini. Dan oke, luar biasa,” tuturnya sembari tertawa renyah.
“Soalnya baru pertama kali ini. Kan enggak pernah nongki di tempat kayak gini. Biasanya kan kaya di kafe gitu,” lugas gadis asal Lampung tersebut.
Dia pun terkesan dengan menu makanan tradisional yang tersedia. Mi godok pedas dengan taburan ayam suwir sangat cocok untuk mengusir hawa dingin. Tak butuh waktu lama, semangkuk mi godok yang ditemani tempe goreng habis dilahap.
“Makanan-makanan ini rasanya enak sih, kan biasanya kalau di kafe adanya steak-steak gitu. Jadi sangat jarang nyobain kuliner-kuliner yang lain. Dan baru di Jawa makan di angkringan gini,” lugasnya.
“Memang kalau di Jawa itu masakannya manisnya lebih terasa dibandingkan di Lampung. Tadi sudah pesan pedas, karena saya suka pedas. Tapi ya seperti masih kurang pedas, karena ada manis-manis gitu. Tapi secara umum enak sih, tempatnya oke juga,” tandasnya.
Penuturan serupa disampaikan Risca Stefani, mahasiswi asal Kalimantan Tengah. Sebagai generasi milenial yang sehari-hari memegang gawai, beberapa waktu terakhir melihat unggahan foto dan video angkringan tenda di tengah hutan.
“Saya pertama kali tahunya dari Instagram. Terus teman mengajak saya datang ke sini, nah kebetulan saya lagi tugas akhir dan skripsi. Jadi, ya untuk refreshing gitu, jalan-jalan lah ke sini,” kata gadis yang baru saja memasuki usia 21 tahun tersebut.
“Kesannya seru. Hawanya adem, suasananya beda dengan Kalimantan Tengah. Ini luar biasa konsepnya. Kalau untuk kulinernya tadi saya pesan nasi bakar sama gorengan. Sebenarnya pesanan (menu) biasa saja, tapi kalau rasanya itu jangan ditanya lagi, luar biasa!” ucapnya.
Angkringan Tenda Villa Pinus itu diinisiasi oleh sekelompok pemuda. Mereka mencoba bangkit untuk memulihkan perekonomian, setelah terpuruk dihantam pandemi Covid-19. Sebab, sebelumnya area perkemahan (camping ground) dan outbond yang mereka harus berhenti beroperasi.
Aset 50-an tenda dome dan perlengkapan outbond dibiarkan mangkrak di dalam gudang. Persoalan lain tidak ada sumber pendapatan, padahal mereka mesti memenuhi kebutuhan keluarga. Hingga muncul ide membuat wisata kuliner dengan konsep angkringan agar harganya terjangkau bagi masyarakat.
“Setelah pemerintah mulai memberikan izin untuk membuka usaha lagi, kita berpikir mulai usaha baru tapi tetap memanfaatkan aset yang ada. Kita punya tenda, ada lahan luas, lalu muncul ide, kenapa kita enggak buat angkringan dengan menerapkan protokol kesehatan?” kata pengelola Angkringan Tenda Villa Pinus, Budi Susilo.
“Pastinya dengan jarak yang berjauhan supaya physical distancing juga tercapai. Menunya sama dengan angkringan biasanya, tapi dengan keunikan dengan konsep yang kami punya pasti akan menarik perhatian banyak orang,” ucapnya yakin.
Mereka mulai menyulap area perkemahan itu menjadi kawasan kuliner. Lampu-lampu dipasang di beberapa tempat. Tenda lengkap dengan tikar dan meja ditata sedemikian rupa agar memenuhi protokol kesehatan, sesuai anjuran pemerintah.
“Lalu kita foto-foto dan unggah di media sosial Instagram dan Facebook. Untuk yang makan awal dulu itu ya keluarga kita sendiri. Jadi masing-masing mengajak istri dan anak-anak, lalu foto. Responsnya luar biasa, kita beberapa kali viral,” katanya bangga.
Angkringan ini pun tak hanya ramai di jagat maya, tetapi juga menarik perhatian pelanggan dari berbagai daerah. bahkan saking banyaknya pengunjung, pihak pengelola angkringan memilih tutup pada akhir pekan untuk menghindari kerumunan massa.
“Luar biasa, kami sempat viral-viral terus. Kemudian juga sampai punya waiting list, tapi dengan viralnya hingga banyaknya pengunjung, kami juga mikir dampaknya (kerumunan pengunjung). Makanya kami buka Senin sampai Kamis. Jumat kita bisa libur,” jelasnya.
“Sabtu dan Minggu kita off, karena tamunya yang sudah sangat luar biasa. Kalau sudah luar biasa kan berarti penumpukan orang, dan itu akan menjadi sebuah perhatian. Kita memilih tutup agar tidak terjadi keramaian,” ungkapnya.
Keputusan tak beroperasi saat banyak pengunjung, bukan perkara mudah. Sebab jika dihitung secara materi akan menghasilkan keuntungan besar. Namun, mereka merasa turut bertanggung jawab agar Covid-19 tak semakin menyebar, apalagi hingga menjadi klaster baru.
“Memang banyak yang bilang gitu (merugi karena tutup), tapi mengelola berkat itu susah. Kami tidak mau hanya memikirkan berkat, hanya memikirkan income tapi kemudian jadi sesuatu hal di masa pandemi ini jadinya malah semakin susah (akibat penyebaran Covid-19),” tandas dia.
Sekadar diketahui, terdapat sekira 32.000 UMKM di Jawa tengah yang terdampak pandemi Covid-19. Pemerintah memberikan berbagai stimulus agar mereka kembali bangkit memulihkan perekonomian. Selain itu juga didorong memanfaatkan teknologi informasi untuk mengenalkan sekaligus memasarkan produk.
“Kita mendorong teman-teman UMKM untuk masuk ke online. Jadi kita sekarang melatih pendamping-pendamping UMKM kerjasama dengan seluruh e-commerce dan kita meminta pendamping itu yang melatih UMKM,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati.
“Jadi nanti target 1 pendamping mendampingi 5 sampai 10 UMKM masuk ke online. Untuk target ini sudah mulai banyak, sudah dapat 400-an UMKM yang masuk ke online. Kita kerjasama dengan seluruh e-commerce supaya masuk online, karena dengan e-commerce itu bisa terlihat siapa yang mengunjungi, siapa yang sudah beli, bagaimana perilaku UMKM di online itu,” terang dia.
Menurutnya, penggunaan teknologi informasi sangat dibutuhkan untuk menunjang perkembangan UMKM. Terlebih, pada masa pandemi orang lebih banyak di rumah sehingga mengandalkan akses internet untuk mencari segala informasi, termasuk kebutuhan sehari-hari.
“Saya menyerukan kepada teman-teman UMKM, untuk mau enggak mau Anda sekarang harus masuk online, tidak bisa ditolak lagi. Jadi sekarang ya memang yang sepuh-sepuh (tua) harus mengajak putranya atau orang lain yang memang paham tentang online. Jadi gunakan Android Anda untuk berjualan,” tandasnya.
“Memang sekarang UMKM yang kreatif dan inovatif, yang akan bertahan dan kemudian bisa melesat. Selain yang itu (angkringan tenda), ada juga kerajinan porselen dia bener-bener fokus pada online dan omzetnya naik 500 persen, mi ongklok yang dikemas bagus itu naik 300 persen omzetnya,” beber dia.
Dia menambahkan masih ada kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk mendapatkan Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM). Sebab, dari target 2 juta lebih UMKM, baru terdapat sekira 1 juta UMKM yang mendaftar.
“Ada sekira enam skema yang dibuat oleh Pemerintah Pusat untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN). Terakhir adalah BPUM, itu yang kita mendata dan mensosialisasikan supaya banyak yang mengakses. Sementara yang dari BPUM, kita baru sekira 1 jutaan UMKM, target kita 2 juta lebih,” pungkasnya.
(Rizka Diputra)