Berakhir Pekan di Solo, Jangan Lupa ke Pura Mangkunegaran

Ilham Rachmatullah, Jurnalis
Sabtu 24 Oktober 2020 09:04 WIB
Pura Mangkunegaran. (Foto: Instagram/@diahdiandra)
Share :

SALAH satu destinasi wisata sejarah dan budaya di Kota Solo adalah Istana Mangkunegaran atau dikenal dengan Pura Mangkunegaran. Jika berkunjung ke Solo, belum lengkap kalau tak ke Pura Mangkunegaran.

Solo mempunyai dua keraton atau istana kerajaan, yang pertama ada Keraton Kasunanan dan ada Pura Mangkunegaran. Dalam bahasa Jawa, Pura mempunyai arti Istana atau Kerajaan dan Pura Mangkunegaran ini adalah salah satu Kerajaan atau Istana yang menjadi pusat budaya dan seni di Kota Solo.

Okezoners dapat menggali dan mengetahui sejarah dari seluk-beluk kerajaan yang ada di Solo dengan mengunjungi Pura Mangkunegaran ini. Dilansir Okezone dari Pariwisata Solo, Pura Mangkunegaran didirikan pada tahun 1757 masehi setelah melalui sejarah yang cukup panjang.

Berbagai koleksi berharga di dalam Istana atau Pura Mangkunegaran dipercayai berasal dari Kerajaan Mataran dan Kerajaan Majapahit. Pura ini dibangun atas dasar Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran yang merupakan Kerajaan yang pernah berkuasa di Surakarta sejak tahun 1757 sampai dengan 1946 masehi.

Secara umum bangunan Pura Mangkunegaran ini memiliki gaya arsitektur komplek bangunan menyerupai keraton, namun mengalami perubahan sebagaimana bangunan utama Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta yang memiliki ciri dan dekorasi Eropa yang populer pada masa itu.

Baca Juga: Museum Sumpah Pemuda Kembali Dibuka, Patuhi Protokol Kesehatan saat Berkunjung

Dikutip dari akun Twitter @Torriosh, bangunan paling depan dari Pura Mangkunegaran ini dikenal dengan Pendopo Ageng. Pendopo Ageng tersebut mempunyai bentuk dan ciri bangunan khas Joglo atau (JOG)ja dan So(LO) karena bangunan tersebut mempunyai 4 pilar utama sebagai penyangga atau pondasi utama.

Marmer atau lantai di Pendopo Ageng ini didatangkan langsung dari Carrara, Italia loh Okezoners. Pada awalnya marmer atau lantai tersebut berwarna putih namun selang waktu pada tahun 1966 terjadi banjir di kota Solo yang merendam bangunan Pendopo Ageng selama seminggu hingga merubah warnanya menjadi kecoklatan.

Di atap atau langit-langit Pendopo Ageng, Okezoners akan melihat lukisan yang disebut Kumudhawati atau Kumudhang. Kumudhawati tersebut mempunyai 8 lukisan utama yang masing-masing mempunyai warna yang dianggap mewakili dan memiliki makna sebagai pencegah akan nafsu manusia.

Warna dari ke-8 lukisan Kumudhawati tersebut mempunyai arti antara lain, kuning mencegah kantuk, biru mencegah musibah, hitam mencegah lapar, hijau mencegah frustasi, putih mencegah birahi, oranye mencegah rasa takut, merah mencegah amarah dan ungu mencegah pikiran jahat.

Pendopo Ageng ini juga digunakan sebagai tempat penyimpanan 3 Gamelan kuno yang bersejarah. Pertama dan yang paling tua adalah Gamelan Kyai Kanyut Mesem yang diperkirakan berusia lebih dari 200 tahun. Kanyut mesum artinya ikut tersenyum karena konon saking indahnya bunyi dari alunan gamelan tersebut akan membuat siapa saja yang mendengarkannya ikut tersenyum. Gamelan Kyai Kanyut Mesem akan dipergunakan dan ditabuh pada saat-saat tertentu dan istimewa seperti peringatan penobatan pangeran baru atau peringatan penobatan.

Gamelan berikutnya diberi nama Kyai Lipur Sari. Gamelan tersebut dipergunakan untuk mengiri tari-tari biasa dan biasanya dipergunakan dan ditabuh pada hari rabu. Dan yang terakhir ada Gamelan Kyai Seton, sesuai namanya, Seton atau setu dalam bahasa Jawa artinya Sabtu. Gamelan tersebut biasanya dimainkan pada hari Sabtu yang mempunyai bunyi kencang dan biasa digunakan sebagai penyambut tamu di keraton atau Pura Mangkunegaran ini.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya