Sebagai perempuan single kadang sering galau memikirkan jodoh ke depan. Namun sejatinya kamu tak perlu galau sebab jodoh sudah diatur oleh Tuhan, sama seperti kisah cinta perempuan ini.
Seorang perempuan asal Taiwan membagikan kisah cintanya hingga tersebar di seluruh dunia. Alhasil kisah cintanya itu berhasil merebut hati lebih dari 53 ribu orang di grup Facebook Subtle Asian Traits.
Perempuan bernama Lucia Lee-Kombe @luleekombe, berbagi ceritanya lewat unggahan tentang keragaman budaya yang menginspirasinya untuk berbicara tentang kisahnya sendiri dalam menemukan cinta di seluruh benua.
Lucia menggambarkan pendidikannya yang mengarahkannya ke tempat lain. Ia mengaku awalnya yakin akan tinggal dan bekerja di Asia karena keakrabannya dengan budaya Korea dan Jepang dari studi dan pengalaman mengajarnya.
Ia pun mengikuti program studi luar negeri di Korea selama 2014 dan mengajar di Dazaifu, Fukuoka, Jepang dari 2016 hingga 2018. Tidak yakin tentang jalan kehidupan selanjutnya, Lucia kemudian menemukan buku, dokumenter, dan sumber informasi lainnya tentang Afrika.
Orangtuanya mendorongnya untuk menjadi seorang guru atau memegang pekerjaan pemerintah tetapi hal itu sama sekali tidak menarik perhatiannya saat mencobanya. Dia akhirnya mendaftar untuk mengajar bahasa Inggris dalam perjalanan sukarela selama dua minggu ke Arusha, Tanzania pada tahun 2010.
Ia pun berangkat ke Tanzania sebelum memulai gelar masternya untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang benua yang hanya dia baca. Lucia juga mengatakan bahwa ia merasa iseng dan mendaftar untuk tur safari berkemah yang dipandu oleh orang yang kini menjadi suaminya yakni, Sam.
"Mengira dia memiliki pekerjaan terbaik di dunia, dan tampak sangat baik dan berpengetahuan,” terang Lucia, sebagaimana dilansir Next Shark, Rabu (14/10/2020).
Sam terkesan dengan Lucia karena ia menawarkan diri untuk membantunya mendirikan tenda untuk perjalanan tersebut. Mereka akhirnya bertemu sekali lagi secara langsung setelah tur safari di sebuah pub untuk menghibur tim Ghana di Piala Dunia 2010 sebelum dia mengantarnya ke bandara.
“Sejak saat itu, kami hanya berkomunikasi melalui email dan SMS, jadi jarak jauh berlangsung sebentar,” lanjutnya.
Kemudian keduanya jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menikah pada 2012 dan menjadi keluarga beranggotakan empat orang. Anak pertamanya lahir empat tahun kemudian, di mana mereka sekarang menyebut Tanzania sebagai rumah.
Mereka merangkul budaya mereka yang beragam melalui musik, makanan, bahasa, dan tradisi. Sebagai satu kesatuan, mereka berusaha menghormati budaya satu sama lain.
Baca juga: Adanya Gunung Api Bawah Laut Dijelaskan dalam Alquran dan Sains
“Saya pikir tetap berpikiran terbuka untuk mempelajari hal-hal baru tentang satu sama lain adalah nilai tambah dalam hubungan apa pun. Kami mencoba untuk terbuka terhadap saran satu sama lain,” sambungnya.