Lanjut ke lokasi paling bersejarah yaitu Sumur Tua atau biasa dikenal dengan Lubang Buaya. Tempat ini yang dijadikan lokasi pembuangan jenazah 7 Pahlawan Revolusi. Diketahui dari keterangan seorang petugas pemandu wisata Monumen Pancasila Sakti, Pak Arifin bahwa mulanya anggota PKI membuat 2 tipuan galian untuk mengecohnya.
“Jadi ada 2 tipuan, yang satu tanah yang dicangkul terus ditaburi daun kering. Nah satunya lagi ada tanah bekas cangkulan ada daunnya. Setelah digali ternyata itu tanah kasar atau tanah waras, hanya ditimpuk cangkul terus ditaburi daun. Dia mengecoh dengan 2 cangkulan, jadi sumur aslinya cuma satu,"ungkap pemandu wisata Arifin kepada Okezone, saat berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti.
Sumur itu, kata Arifin, sekarang tidak berfungsi lagi. Karena umur aslinya adalah tanah yang dilubangi dalamnya 12 meter. Ditambah dengan ditimbun potongan-potongan pohon pisang, peti, daun-daun kering, baru di dalamnya adalah jenazah. Diameternya sekira 75 sentimeter.
"Tapi setelah dipakai membuang jenazah dan walaupun jenazahnya sudah diambil, orang sudah tidak mau menggunakan air sumur itu lagi. Lama-lama sumurnya kering, biasanya kalau sumur kering tanah di atasnya runtuh sedikit demi sedikit,” ucapnya.
Jadi saat ini untuk Sumur Tua itu sendiri sudah tidak seutuhnya asli. Karena diberikan penerang pada pinggiran lubangnya, serta dipasang lampu pada pertengahan sumur agar pengunjung dapat melihat isi dalamnya tanpa harus bersusah payah.
Ada pula Ruang Relik yang berisikan bekas pakaian yang dikenakan para korban dari saat diculik, hingga saat dibunuh. Terdapat beberapa barang yang sempat terbawa juga saat tragedi pembunuhan. Ada juga alat visum dokter dan alat bantu pernafasan para tim evaluasi jenazah dari dalam sumur.
Setelah lelah bekeliling tak ada salahnya bersantai sembari menyaksikan pemutaran rekaman bersejarah. Rekaman tersebut menunjukkan momen pengangkatan jenazah 7 pahlawan revolusi hingga pemakamannya di Taman Makam Pahlawan, Kalibata.
Lalu nilai apa sih yang bisa didapatkan saat berada di Pancasila Sakti? Menurut Pengunjung, Wahdatul (20), monumen ini cukup menjelaskan bagaimana perjalanan dari G30S/PKI.
"Jadi nilai nasionalisnya lebih dapat, lebih kerasa perjuangannya itu dan patut untuk dihargai,” ujar Wahdatul. (dwk)
(Salman Mardira)