Meski begitu, Rapid Test tetap memiliki kegunaan potensial dalam penelitian. Salah satunya melibatkan evaluasi pasien individu dengan kecurigaan klinis yang sangat mengarah pada Covid-19. Rapid Test juga dilakukan apabila pasien atau unit fasilitas kesehatan tidak memiliki aksesn tes PCR.
Menjadi informasi yang perlu diketahui masyarakat bahwa Rapid Test itu melihat adanya IgM, IgG, dan IgA yang semuanya itu merupakan jenis imunoglobulin berbentuk Y atau antibodi sederhananya.
Nah, Antibodi IgM itu muncul belakangan dari Covid-19 dibandingkan virus lainnya. Lalu. IgG itu dapat dideteksi dua minggu setelah infeksi terjadi. Sedangkan untuk IgA, ini tidak sebaik membedakan SARS-CoV2 dibandingkan virus corona lainnya.
Terlepas dari itu semua, penggunaan Rapid Test tetap punya manfaatnya. Meski begitu, pihak rumah sakit harus menyediakan Rapid Test dengan kualitas sangat baik dengan sensitivitas dan spesifitas yang tinggi atau lebih dari 99,5% agar benar-benar bermanfaat.
Dr Angela Caliendo yang terlibat dalam pembuatan makalah ini menekankan bahwa sejauh ini alat Rapid Test yang ada di publik itu tidak ada yang mencapai angka sensitivitas setidaknya 96 persen.
(Helmi Ade Saputra)