Penggunaan Rapid Test Covid-19 sebagai skrining awal keberadaan virus corona di tengah masyarakat diragukan kembali oleh peneliti. Baru-baru ini, The Infectious Disease Society of America (IDSA) menerbitkan makalah ekstensif tentang pengujian serologis Covid-19.
Dalam laporan tersebut, para peneliti di organisasi itu menemukan fakta bahwa pengujian antibodi tidak cukup baik untuk menentukan kekebalan atau risiko infeksi ulang. Ada anggapan juga bahwa antibodi bisa larut dalam darah dan karena itu, pengujian antibodi dinilai tak penting.
"Tes antibodi ini tidak dapat menginformasikan keputusan untuk menghentikan jarak fisik antar orang atau mengurangi seseorang untuk menggunakan alat pelindung diri," tulis laporan IDSA, menurut New York Post.
Dari penjelasan tersebut, bisa dimaknai bahwa Anda kurang beruntung jika Anda mencoba untuk menentukan apakah penyakit flu pada Februari lalu itu benar-benar Covid-19. Terlebih, implikasi lainnya adalah bahwa apa yang disebut 'kekebalan' itu tidak ada.
Baca Juga : Pakai Bikini di Labuan Bajo, Mesranya Awkarin Dipeluk Pacarnya dari Belakang
Jika pengujian antibodi saat ini tidak cukup baik untuk membuktikan seseorang mengidap Covid-19, maka tes itu tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan dokumentasi apapun yang bisa menjelaskan hal lanjutannya.
"Faktanya, Rapid Test dipilih banyak rumah sakit untuk dapat cepat memeriksa kekebalan Covid-19 sekarang ini," tulis peneliti. Terkait itu semua, PCR Test masih jadi pengujian yang efektif menentukan apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak.
Hal yang menjadi kekurangan dari Rapid Test adalah kekhawatiran tes hanya mampu mengenali antibodi dari virus yang baru terdeteksi, tetapi melewati pasien lama yang sudah terinfeksi paru-parunya. Oleh karena itu, penelitian semacam itu akan selalu menghasilkan persentase imunitas yang lebih rendah dalam komunitas.
Meski begitu, Rapid Test tetap memiliki kegunaan potensial dalam penelitian. Salah satunya melibatkan evaluasi pasien individu dengan kecurigaan klinis yang sangat mengarah pada Covid-19. Rapid Test juga dilakukan apabila pasien atau unit fasilitas kesehatan tidak memiliki aksesn tes PCR.
Menjadi informasi yang perlu diketahui masyarakat bahwa Rapid Test itu melihat adanya IgM, IgG, dan IgA yang semuanya itu merupakan jenis imunoglobulin berbentuk Y atau antibodi sederhananya.
Nah, Antibodi IgM itu muncul belakangan dari Covid-19 dibandingkan virus lainnya. Lalu. IgG itu dapat dideteksi dua minggu setelah infeksi terjadi. Sedangkan untuk IgA, ini tidak sebaik membedakan SARS-CoV2 dibandingkan virus corona lainnya.
Terlepas dari itu semua, penggunaan Rapid Test tetap punya manfaatnya. Meski begitu, pihak rumah sakit harus menyediakan Rapid Test dengan kualitas sangat baik dengan sensitivitas dan spesifitas yang tinggi atau lebih dari 99,5% agar benar-benar bermanfaat.
Dr Angela Caliendo yang terlibat dalam pembuatan makalah ini menekankan bahwa sejauh ini alat Rapid Test yang ada di publik itu tidak ada yang mencapai angka sensitivitas setidaknya 96 persen.
(Helmi Ade Saputra)