Ini pun seperti pengalaman Marianna Cerini, penulis dari The Economist, yang datang Yogyakarta pada beberapa bulan lalu. Ia pun bercerita tentang pengalamannya saat pertama kali mencoba tempe goreng pertama kali.
Selain itu kita tidak bisa lupa dengan kisah Rustono yang menjalankan bisnisnya Rusto’s Tempeh yang dapat bersaing dengan berbagai macam masakan Jepang. Ternyata, tempe yang di produksi pria asal Grobongan ini pun sudah terkenal di negara – negara di Benua Asia, Eropa dan Amerika.
Mendunianya tempe pun patut membuat kita bangga, terlebih lagi bila orang – orang di luar sana menyukainya. Mereka pun menyebut tempe sebagai majib food, alias makanan ajaib.
Austalia juga menjadi tempat tempe mendapatkan penggemar baru. Amita Bussink adalah warga local Australia yang jatuh cinta dengan tempe. Dari kecintaannya tersebut, Ia pun memproduksi tempe di Margaret River Tempeh. Dari keseriusannya menjalani bisnis tempe, tempe produksinya puun terasa sama persis dengan tempe Indonesia.
Dalam acara Wonderful Indonesia Gastronomy Forum 2018 pada 22-23 November 2018 di Aryadutta Hotel, Jakarta, Mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya juga menyampaikan apresiasinya.
"Tempe begitu digandrungi di tingkat dunia, ini menjadi peluang bagus mengangkat nasional brand sekaligus menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia. Saya bangga sebagai bangsa tempe. Salam tempe! Salam Pesona Indonesia," sebutnya.
(Dewi Kurniasari)