Anak muda itu sering kali memiliki pemikiran yang berbeda. Seorang pemuda bernama Dipa memutuskan menjadi petani.
Sebagai lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Dipa malah terjun ke sawah. Padahal menurut pemikiran umum, dia bisa terjun menjadi politikus atau dosen di bidang ilmu politik. Namun dia malah memilih menjadi petani.
Dipa yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, ini memilih meladang dan bersahabat dengan sayur mayur.
Bercerita pada Okezone, menurut Dipa, saat dirinya memutuskan untuk hidup di desa, dia yakin betul bahwa tempat hidupnya itu menyimpan banyak rahasia dan tentunya makna yang belum terkuak. Dia yakin di desa banyak ilmu yang bisa dia dapatkan, tak sekadar pundi penghasilan.
"Alasan aku ke desa karena sadar bahwa ada banyak yang bisa dilakukan di desa, mulai dari pendidikan, potensi ekonomi, pengembangan kebudayaan, juga pengembalian ekosistem biar lebih baik," terangnya saat dihubungi Okezone, beberapa waktu lalu.
Dipa melanjutkan, ada alasan khusus juga kenapa dirinya memilih untuk bertani. Bagi dia, karena Indonesia memiliki jutaan hektar lahan, keberagaman hayati, dan cuaca yang sangat mendukung.
Dipa menambahkan, fakta menunjukkan semakin banyak anak muda yang kembali ke desa dan mengembangkan desa tersebut. "Saat ini, beberapa teman lain mau bertani di desa. Para petani yang sudah tua merasa senang ketika ada anak muda mau jadi petani," katanya.
Dipa memang sudah pernah belajar tentang pertanian alami. Ternyata banyak anak muda yang tertarik ikut bertani.
Dia belajar bertani dari Pak Udik. "Pak Udik ini adalah salah seorang guru yang sering mengajarkan tentang nutrisi dan cara buat pupuk organik cair untuk tanaman," cerita Dipa.
Di kelas tani itu juga Dipa dan teman-temannya sempat mengunjungi ladang Pak Daliman, dia merupakan praktisi pertanian alami di Bantul, Yogyakarta. Guru lain yang memiliki kontribusi besar dalam minat bertani Dipa adalah Qomarun Najmi.
Dari pertemuan dengan banyak petani itu, Dipa merasa yakin kalau cita-citanya adalah menjadi petani. Bahkan, saat dirinya menjelaskan mimpi tersebut, keluarganya mendukung.
Baca juga: 3 Gaya Trendi Veronica Tan Nongkrong Cantik Bareng Sosialita Ibu Kota
"Aku merasa itu semua keberuntungan terbesar selama hidup. Meski enggak bergelimang harta, tapi aku punya keluarga dan teman-teman yang selalu suportif. Karena itu, aku merasa hidupku selalu gampang," ungkapnya.
Lantas bagaimana awal mula Dipa bertani?
Dipa menceritakan, dia meminjam sedikit uang ke keluarganya buat modal. Dia pun rela menjual buku-buku yang dia kumpulin selama kuliah. Sampai akhirnya Maret Dipa mulai bertani, mulai nyangkul, belajar lagi banyak hal langsung dengan petani lain.
Untuk lahannya, Dipa ternyata cari-cari info di media sosial, tanya keluarga, bahkan sempat ke kantor desa meski berakhir tanpa respons.
Namun, takdir Tuhan baik untuk Dipa. Saat dirinya sedang membeli larva buat mengolah sampah organik, dia bertemu dengan teman yang 'nyambung' dan dari dialah Dipa dipertemukan dengan teman lain yang lagi garap lahan.
"Setelah obrolan terjadi, aku langsung diajak buat garap lahan kosong seluas 450-an meter," ceritanya senang. Dari pengalaman ini Dipa yakin bahwa itu bukan suatu kebetulan, melainkan jalan Allah.
Di lahan itulah Dipa mulai menanam kangkung dan bayam. Setelah menanam, Dipa menemukan fakta baru yang sulit diperhitungkan yakni fluktuasi harga, iklim, hama, dan penyakit. "Dari itu semua jadi benar-benar belajar pentingnya sabar dan tekun."
"Setelah aku bertani, aku ngerasa hidup aku benar-benar tenang dan bahagia banget. Rasanya kayak bener-bener merdeka. Hidup enggak cuma buat ngumpulin uang, tapi bisa terus saling berbagi lewat hasil tani dan semakin sadar bahwa sepenuhnya kita bergantung pada alam yang sayangnya terus kita rusak," pungkas Dipa.
(Dyah Ratna Meta Novia)