dr. Ankur Kalra, seorang ahli jantung yang bekerja pada penelitian ini mengatakan, kondisi ini ditemukan empat sampai lima kali lebih tinggi dari tingkat yang terlihat pada periode pra-pandemi, yang berkisar antara 1,5% dan 1,8%. Sementara Covid-19 dapat menyebabkan komplikasi jantung, tidak ada pasien dengan stress cardiomyopathy yang dites positif untuk infeksi.
Baca juga: 4 Potret Liburan Manja Hana Hanifah ke Bali hingga Italia
"Itu menunjukkan ini bukan cerminan dari virus, tetapi tekanan dari pandemi," kata Kalra seperti dilansir dari WebMd belum lama ini.
Stress cardiomyopathy adalah diagnosis yang relatif baru, dan dokter masih berusaha untuk memahami sepenuhnya. Tapi kondisi ini mendapat julukan sindrom patah hati karena mungkin muncul setelah peristiwa yang sulit secara emosional, seperti perceraian atau kematian orang yang dicintai.
Namun, situasi stres lainnya seperti dari kecelakaan lalu lintas hingga operasi juga bisa menjadi pemicu sindrom patah hati.
Dr. David Kass, seorang profesor kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore menjelaskan, kondisi itu mungkin tidak muncul segera setelah pemicunya.