Beredar kabar bahwa masyarakat Baduy menolak adanya kunjungan wisatawan ke wilayah mereka. Salah satu poin alasannya ialah sampah yang dibawa para wisatawan mencemari alam Baduy.
Pernyataan ini tertuang dalam surat terbuka yang ditujukkan untuk Presiden Joko Widodo. Bahkan, surat itu pun kini viral dan dianggap membuat keresahan.
Di sisi lain, tetua Baduy belum lama ini melangsungkan musyawarah terkait dengan beredarnya surat terbuka tersebut. Dalam hasil diskusi, lahir beberapa pernyataan sikap pihak Baduy.
Salah satu hasil musyawarahnya ialah kunjungan bagi warga luar Baduy masih diperbolehkan. Artinya, Baduy tidak ditutup dengan alasan prinsipal.
“Prinsip kami (warga Baduy), menutup kunjungan berarti memutus tali silaturahmi,” isi keputusan tersebut.
Lalu, dari musyawarah itu pun menjelaskan bahwa lembaga adat Baduy meminta agar mengganti istilah ‘wisata’ dengan ‘SABA’, karena konotasi wisata menurut mereka (Jaro, red) adalah tontonan, hiburan, dan juga pengembangan.