Banyak orang membantah bahwa uang bisa membeli kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan hanya bisa didapat dari hal-hal sederhana seperti berkumpul di rumah bersama keluarga yang harmonis, melihat anak bahagia, atau memiliki orang terkasih yang selalu ada untuk Anda.
Tapi, pepatah kuno mengenai kebahagian tersebut dipatahkan para peneliti. Ya, dalam Jurnal Ilmiah Emotion dikatakan bahwa kecukupan ekonomi memberi korelasi positif pada seseorang, termasuk pendapatan, pendidikan, dan prestis pekerjaan.
"Kebahagiaan lebih banyak didasari pendapatan sekarang ini daripada tahun 1970-an dan 1980-an," kata penulis utama makalah, profesor psikologi Universitas San Diego Jean Twenge, kepada Fox Bisnis. "Jadi uang membeli kebahagiaan sekarang ini daripada di masa lalu."
Menurut laporan New York Post, studi ini menggunakan data dari Survei Sosial Umum, yang melacak perubahan dalam masyarakat Amerika, yang merupakan salah satu survei terpanjang yang mewakili secara nasional orang dewasa Amerika, dengan 44.198 peserta disurvei antara tahun 1972 hingga 2016.
Satu pertanyaan survei yang ditanyakan ialah; Apakah Anda sangat bahagia, cukup bahagia, atau tidak terlalu bahagia?
Para peneliti kemudian membagi peserta menjadi kelompok berdasarkan pendapatan dan kemudian menganalisis bagaimana mereka menjawab pertanyaan selama bertahun-tahun. Hasilnya menunjukkan kesenjangan kelas yang tumbuh ketika membahas kebahagiaan.