Sebanyak 14 orang pelaut dari kapal USS Theodore Roosevelt yang telah pulih dari virus corona COVID-19. Kondisi ini tentunya menimbulkan banyak pertanyaan tentang kekebalan (antibodi) terhadap COVID-19 setelah terinfeksi.
Para pelaut yang sebelumnya terinfeksi COVID-19 melakukan tes ulang dan dinyatakan positif terjangkit kembali. Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Armada Pasifik AS dalam sebuah pernyataan.
Alhasil para pelaut itu diperintahkan turun dari kapal dan diminta untuk melakukan isolasi diri setidaknya selama 14 hari. Para ahli mengatakan bahwa hasil tes yang membingungkan tidak bisa memastikan bahwa seseorang dapat terinfeksi dua kali .
Hampir semua tes diagnostik untuk COVID-19 yang digunakan di AS mencari sampel RNA virus, atau kode genetik. Tetapi menurut panduan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, mengatakan deteksi viral load tidak berarti bahwa ada virus menular.
Tes mungkin mengambil sepotong RNA virus yang tertinggal, daripada partikel virus menular yang sepenuhnya utuh. Tes positif kedua setelah hasil negatif dapat berarti virus hanya mengambil waktu meninggalkan tubuh dan tidak lagi dapat menginfeksi orang lain.
"Mungkin saja orang dapat membuang sisa virus selama beberapa waktu. Itu tidak berarti ada yang salah dengan mereka atau bahwa mereka menular," tutur seorang Ahli Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center di Nashville, dr. William Schaffner, melansir CNBC News, Rabu (20/5/2020).
Studi dari Korea Selatan juga mendukung gagasan tersebut. Para peneliti di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea menganalisis data pada 285 pasien COVID-19 yang juga dites positif setelah terlihat pulih.
Para ilmuwan tidak dapat menemukan bukti bahwa pasien tetap bisa menularkan penyakit. Sementara sampel virus yang diambil dari pasien tidak dapat dipaksa untuk tumbuh dan berkembang. Bahkan dalam studi laboratorium, menunjukkan bahwa sampel virus tidak berguna.
"Apa yang kami temukan semakin banyak adalah fragmen virus yang diambil ini beberapa minggu kemudian tidak dapat ditiru. Mereka bukan virus hidup," kata Associate Director of Medicine di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di Kota New York, dr. Ania Wajnberg.
Namun, dunia hanya mengetahui tentang COVID-19 hanya selama beberapa bulan. Kondisi ini membuat para ilmuwan belum memiliki indikasi tentang bagaimana virus itu bereaksi dalam jangka panjang.
"Kami hanya belum memiliki cukup detail untuk membuat pernyataan pasti tentang imunologi," kata Kepala Penyakit Menular di Wake Forest Baptist Health di Winston-Salem, North Carolina, dr. John Sanders.
Sanders mengatakan hasil diagnostik yang berbeda mungkin bisa dijelaskan sebagai negatif palsu.
"Saya pikir ada banyak yang harus dipelajari tentang pengujian dan tentang dampak perlindungan dari terinfeksi atau mengembangkan antibodi," sambungnya.