Uji Coba Vaksin COVID-19 ke Manusia Berhasil Buat Antibodi Corona

Pradita Ananda, Jurnalis
Selasa 19 Mei 2020 18:57 WIB
Ilustrasi (Foto : Medicalnewstoday)
Share :

Berbagai kandidat vaksin corona dari berbagai negara di dunia untuk menuntaskan pandemi COVID-19 masih terus diuji coba. Terkait uji coba vaksin corona, ada kabar terbaru dari para peneliti yang mungkin bisa jadi kabar membahagiakan.

Kabarnya uji coba vaksin pada manusia yang pertama kali ini menunjukkan hasil positif. Proses trial dilakukan oleh Moderna, perusahaan yang memproduksi vaksin berbasis di Cambridge, Massachusetts. Moderna mengumumkan dari uji klinis fase 1 calon vaksin yang mereka lakukan, menunjukkan hasil positif, seperti dikutip Nbcnews, Selasa (18/5/2020).

Calon vaksin COVID-19 tersebut disebutkan menunjukkan hasil bahwa vaksin tersebut bisa mendorong respons imun dalam tubuh manusia. Selain itu juga ditemukan aman dan ditoleransi dengan baik pada sekelompok kecil pasien. Memperlihatkan hasil yang positif, calon vaksin ini disebutkan lebih lanjut sedang diuji dalam studi yang lebih besar.

Uji klinis fase 1 ini melibatkan sekitar 45 orang, 45 peserta studi masing-masing menerima dua dosis vaksin, sekitar dalam waktu satu bulan dengan cara terpisah. Peserta diberikan satu dari tiga tingkat dosis, 25 mikrogram, 100 mikrogram dan 250 mikrogram.

Kemudian, pada delapan orang partisipan terlihat antibodi penawar menjadi berkembang. Antibodi penawar inilah yang diyakini menjadi kunci dalam memberikan perlindungan tubuh dari virus.

Terkait hasil uji coba vaksin yang menunjukkan hasil menggembirakan, Stéphane Bancel selaku CEO Moderna menyebutkan hasil uji coba ini memperlihatkan probilitas tinggi.

“Kami tidak bisa lebih bahagia melihat data sementara ini. Hasil menunjukkan vaksin memiliki probabilitas tinggi untuk memberikan perlindungan dari penyakit COVID-19 pada manusia,” terang Moderna Stéphane Bancel saat konferensi dengan investor, Senin lalu.

Tujuan uji coba fase 1 ini sendiri adalah untuk mengevaluasi tingkat keamanan dari obat baru dalam peserta kelompok kecil, bukan efektivitas. Nah nanti di uji coba fase 2 baru mempelajari apakah suatu obat bekerja atau tidak.

Pihak Moderna mengatakan para peserta studi yang menerima vaksin dengan dua dosis lebih rendah mengembangkan antibodi COVID-19 sekitar dua minggu setelah dosis kedua. Satu-satunya efek samping yang diklaim Moderna dari vaksin ini adalah timbulnya kemerahan di sekitar area tempat vaksin disuntikkan.

Meski tidak terlibat dalam uji coba, Dr. Iahn Gonsenhauser selaku dokter dari Ohio State University Wexner Medical Center, mengaku optimis dengan hasil dari uji coba calon vaksin corona tersebut, meskipun dalam proses uji klinis ini masih relatif awal.

“Ini berita bagus untuk melihat apa yang terlihat sebagai vaksin yang telah dibuat dan tampaknya aman, yang berpotensi efektif. Terlebih lagi, antibodi yang dikembangkan pasien itu terbukti efektif dalam membatasi replikasi virus di laboratorium," ujar Iahn.

Meskipun memperlihatkan hasil yang positif, tapi tetap saja masih banyak pertanyaan tentang level perlindungan yang kemungkinan bisa ditawarkan antibodi tersebut. Dr. Michael Ison, profesor di divisi penyakit menular dan transplantasi organ di Sekolah Kedokteran Feinberg University Northwestern di Chicago, mengatakan tetap penting untuk mengawasi keadaan pasien yang terlibat dalam studi uji coba tersebut.

Pasalnya yang digunakan adalah semacam pendekatan vaksin yang disebut messenger RNA. Sedangkan hal ini ia sebutkan tidak pernah dipasarkan di Amerika Serikat.

“Secara keseluruhan ini terlihat cukup baik, seperti yang dikatakan ini adalah jenis platform vaksin baru, dan beberapa tanda keamanan mungkin memerlukan waktu untuk bisa dikenali,” jelas Michael.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya