Berbagai kandidat vaksin corona dari berbagai negara di dunia untuk menuntaskan pandemi COVID-19 masih terus diuji coba. Terkait uji coba vaksin corona, ada kabar terbaru dari para peneliti yang mungkin bisa jadi kabar membahagiakan.
Kabarnya uji coba vaksin pada manusia yang pertama kali ini menunjukkan hasil positif. Proses trial dilakukan oleh Moderna, perusahaan yang memproduksi vaksin berbasis di Cambridge, Massachusetts. Moderna mengumumkan dari uji klinis fase 1 calon vaksin yang mereka lakukan, menunjukkan hasil positif, seperti dikutip Nbcnews, Selasa (18/5/2020).
Calon vaksin COVID-19 tersebut disebutkan menunjukkan hasil bahwa vaksin tersebut bisa mendorong respons imun dalam tubuh manusia. Selain itu juga ditemukan aman dan ditoleransi dengan baik pada sekelompok kecil pasien. Memperlihatkan hasil yang positif, calon vaksin ini disebutkan lebih lanjut sedang diuji dalam studi yang lebih besar.
Uji klinis fase 1 ini melibatkan sekitar 45 orang, 45 peserta studi masing-masing menerima dua dosis vaksin, sekitar dalam waktu satu bulan dengan cara terpisah. Peserta diberikan satu dari tiga tingkat dosis, 25 mikrogram, 100 mikrogram dan 250 mikrogram.
Kemudian, pada delapan orang partisipan terlihat antibodi penawar menjadi berkembang. Antibodi penawar inilah yang diyakini menjadi kunci dalam memberikan perlindungan tubuh dari virus.
Terkait hasil uji coba vaksin yang menunjukkan hasil menggembirakan, Stéphane Bancel selaku CEO Moderna menyebutkan hasil uji coba ini memperlihatkan probilitas tinggi.
“Kami tidak bisa lebih bahagia melihat data sementara ini. Hasil menunjukkan vaksin memiliki probabilitas tinggi untuk memberikan perlindungan dari penyakit COVID-19 pada manusia,” terang Moderna Stéphane Bancel saat konferensi dengan investor, Senin lalu.
Tujuan uji coba fase 1 ini sendiri adalah untuk mengevaluasi tingkat keamanan dari obat baru dalam peserta kelompok kecil, bukan efektivitas. Nah nanti di uji coba fase 2 baru mempelajari apakah suatu obat bekerja atau tidak.
Pihak Moderna mengatakan para peserta studi yang menerima vaksin dengan dua dosis lebih rendah mengembangkan antibodi COVID-19 sekitar dua minggu setelah dosis kedua. Satu-satunya efek samping yang diklaim Moderna dari vaksin ini adalah timbulnya kemerahan di sekitar area tempat vaksin disuntikkan.