Tidak dapat dipungkiri, beberapa orang mewarisi gen yang lebih. Salah satunya bisa karena mereka lahir dari orang tua yang empati, kemudian anak-anak tersebut juga melihat perilaku empati dan diberi penghargaan atau reward karena melakukannya.
Dengan demikian, pembelajaran dan nilai-nilai keluarga ini dikatakan bisa memperkuat sirkuit saraf pro-sosial.
Ada juga beberapa tipe orang yang mewarisi sedikit gen pro-empati daripada jumlah rata-rata dan cenderung merasa kurang empati. Salah satu faktor pemicunya, kemungkinan bisa karena lahir dari orang tua yang punya rasa empati rendah, jarang melihat langsung contoh perilaku empati atau tidak dihargai karena melakukan perilaku empati.
Sekarang, dengan terjadinya pandemi COVID-19, ilmu saraf dan genetika menunjukkan bahwa untuk setiap sifat manusia, ada distribusi sistem saraf di dalamnya. Demikian seperti diwarta Popularscience, Rabu (29/4/2020).
(Helmi Ade Saputra)