Lebih Banyak Pasien yang Meninggal setelah Minum Hydroxychloriquine

Pradita Ananda, Jurnalis
Kamis 23 April 2020 09:13 WIB
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Share :

OBAT hydroxychloroquine yang sebelumnya dikenal sebagai obat malaria, sekarang ini mendapat sorotan dari banyak pihak. Karena obat itu disebut-sebut sangat potensial untuk menangani pasien corona COVID-19.

Terjadilah pro dan kontra di kalangan para ahli akan manfaat obat hydroxychloroquine tersebut. Misalnya saja dari studi besar yang dilakukan para peneliti di rumah sakit veteran di Amerika Serikat, disebutkan bahwa obat malaria hydroxychloroquine ini, ternyata tidak menunjukkan adanya manfaat untuk pasien corona COVID-19.

“Dalam studi penelitian ini kami menemukan tidak ada bukti bahwa penggunaan obat hydroxychloroquine, entah itu dengan atau tanpa azithromycin, dapat mengurangi risiko ventilasi mekanik pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit,” ujar para peneliti, seperti dikutip Foxnews, Kamis (23/4/2020).

Penelitian yang diterbitkan dalam medRxiv, diketahui telah mengevaluasi data dari 368 orang pasien corona COVID-19. Studi yang dibiayai oleh hibah dari National Institutes of Health dan University of Virginia ini, juga sebenarnya belum ditinjau ulang.

Dalam penelitian tersebut, terdapat dua hasil utama yang dianalisis, yakni perihal kematian dan kebutuhan ventilasi. Sekira 28 persen pasien yang diberi obat hydroxychloroquine, lalu diberi perawatan biasa hasilnya meninggal, dibandingkan 11 persen dari pasien yang hanya mendapatkan perawatan rutin.

Sementara, sekira 22 persen dari pasien yang mendapatkan obat plus azithromycin diketahui juga meninggal.

Tapi adanya perbedaan antara kelompok pasien, yang mendapatkan obat dengan pasien perawatan biasa ini, tidak dianggap cukup besar untuk bisa menghilangkan faktor-faktor lain, yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup. Para peneliti menambahkan, hasil dari penelitian ini jadi highlight mengapa penting untuk menunggu hasil studi secara prospektif, acak, terkontrol sebelum pengaplikasian obat secara meluas.

“Hubungan peningkatan mortalitas keseluruhan diidentifikasi pada pasien yang diobati dengan obat hydroxychloroquine saja. Temuan ini menyoroti pentingnya menunggu hasil studi prospektif, acak, terkontrol sebelum adopsi luas dari obat ini,” tambah para peneliti.

Dikatakan lebih lanjut, penelitian ini meski berskala nasional, tapi bukan percobaan yang keras. Ini merupakan penelitian tentang hydroxychloroquine (dengan atau tanpa azithromycin) terbesar sejauh ini, untuk melihat potensinya sebagai pengobatan kepada pasien corona COVID-19.

Para peneliti sendiri tidak melacak efek samping, tetapi mencatat petunjuk bahwa obat hydroxychloroquine, kemungkinan bisa merusak organ lain dalam tubuh. Obat ini telah lama diketahui memiliki potensi efek samping yang serius, termasuk mengubah detak irama jantung, sehingga menyebabkan kematian mendadak.

Senada dengan penelitian di atas, pada awal April 2020 ini para ilmuwan di Brasil diketahui telah memberhentikan studi pemakaian obat hydroxychloroquine. Karena satu grup pasien dosis tinggi, terjadi masalah detak irama jantung.

(Dewi Kurniasari)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya