Cara Jaga Kulit Wajah Akibat Terlalu Sering Pakai Masker

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis
Rabu 22 April 2020 17:00 WIB
Ilustrasi (Foto : Shutterstock)
Share :

Pandemi virus corona COVID-19 mengharuskan setiap masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas ke luar rumah. Tentunya pemakaian masker dalam jangka waktu yang lama, dapat menyebabkan iritasi pada kulit wajah.

Menurut para ahli, kulit di wajah bisa menjadi lebih reaktif ketika seseorang memakai masker untuk jangka waktu yang lama. Terlebih dalam iklim lembab, maka dapat dengan cepat menimbulkan efek buruk pada kulit.

Menurut Dokter Kulit, Barbara Sturm, saat mengenakan kosmetik atau obat perawatan kulit dan menggunakan masker selama berjam-jam maka akan menjadi tempat yang ideal untuk berkembang biaknya jerawat. Pori-pori pada wajah pun akan tersumbat.

“Berjerawat ini tidak selalu terkait dengan hormon, pendekatan berbeda untuk rutinitas rutin Anda mungkin diperlukan,” ucap Barbara sebagaimana dilansir Asia One, Rabu (22/4/2020).

Sturm menyarankan pengelupasan kulit lebih teratur untuk mengangkat sel-sel kulit mati, yang dapat menumpuk di bawah masker. Kondisi ini menyebabkan bakteri berlebih dan pori-pori tersumbat.

“Saya meletakkan lapisan gel pelembab sebagai alas sebelum masker sehingga masih dalam membersihkan tanpa mengeringkan kulit," ucap mantan Eksekutif Kecantikan, Angela Chan.

Jerawat cenderung timbul pada area wajah tertentu seperti garis rahang. Oleh sebab itu perawatan jerawat juga harus dimasukkan dalam daftar perawatan kulit. Hindari bahan kimia yang agresif dan keras seperti asam salisilat, yang dapat mengeringkan kulit.

Sebagai gantinya, cari formula dengan bahan antibakteri seperti tea tree oil, lavender dan zinc, yang akan menyembuhkan jerawat secara langsung. Sturm juga merekomendasikan vitamin B3 untuk mendukung pembaruan dan penyembuhan kulit.

Selain berjerawat, pemakai masker terlalu sering dan dalam jangka waktu yang lama akan membuat kulit menjadi pecah-pecah atau kering. Oleh sebab itu menjaga kulit tetap terhidrasi adalah kuncinya. Pelembab non-komedogenik bagus digunakan pada iklim lembap.

Tetapi beberapa bahan dengan antioksidan seperti, teh hijau, vitamin E dan rumput laut, akan membantu melindungi kulit dari agresor eksternal. Perawatan lain yang layak ditambahkan ke dalam rutinitas adalah serum.

Sturm merekomendasikan asam hialuronat, yang telah terbukti secara klinis untuk menghidrasi untuk efek plumping dan untuk mengembalikan reservoir uap air di lapisan kulit yang lebih dalam.

"Ini adalah kesalahpahaman umum bahwa kulit cenderung berjerawat harus dikeringkan. Faktanya, bahkan lebih penting untuk melembabkan, karena kebanyakan berjerawat diperburuk oleh peradangan yang dipicu oleh kekeringan. Ini membantu mengembalikan fungsi penghalang alami,” terangnya.

Sturm juga mengatakan penggunaan tabir surya setiap hari bisa dilakukan, apabila separuh dari wajah Anda tertutup masker.

"Perlindungan terhadap polusi udara dan sinar cahaya tampak berenergi tinggi lebih penting daripada sebelumnya. Dengan kondisi karantina global, layanan internet telah melonjak 50 persen. Layar TV layar datar, ponsel, komputer, dan tablet memancarkan cahaya biru berenergi tinggi yang menembus kulit,” tambahnya.

Cahaya biru tersebut dinilai lebih dalam daripada sinar ultraviolet UV dan menyebabkan kerusakan serupa seperti penuaan dini, perubahan warna kulit, peradangan, kerusakan fungsi penghalang kulit, kulit kering dan iritasi.

"Jika semuanya gagal, satu nasihat terakhir untuk mereka yang ingin menjaga kulit dalam kondisi prima. Saya sarankan membatasi atau menghilangkan make-up. Kebiasaan itu akan memperburuk masalah kulit yang dipicu oleh masker,” pungkasnya.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya