Saat Stigma dan Dampak Sosial Lebih Berbahaya dari Corona, Bagaimana Menghadapinya?

Novie Fauziah, Jurnalis
Rabu 01 April 2020 12:35 WIB
ilustrasi
Share :

PANDEMI virus Corona (COVID-19) melahirkan stigma atau pandangan beragam di tengah-tengah masyarakat, khususnya bagi orang yang dinyatakan positif wabah penyakit tersebut karena mereka (masyarakat) takut tertular.

Salah satu yang dinyatakan positif adalah Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto. Lantas bagaimana ia menghadapi stigma dari masyarakat? Terlebih dirinya adalah salah satu sosok pemimpin di Kota Hujan tersebut.

Menghadapi itu semua dan agar Bima tidak teralalu tersugesti dengan ketakutan yang selama ini beredar, ia memilih untuk puasa sosial media. Hal ini dilakukan agar pikirannya tenang demi berjuang melawan pandemi COVID-19 yang kini sudah terlanjur merasuki tubuhnya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim. Ia menuturkan, bahwa kondisi kesehatan Bima Arya saat ini semakin membaik karena salah satunya adalah dengan puasa media sosial atau social media distancing.

"Alhamdulillah, sejauh ini kondisi beliau (Bima Arya) sehat. Puasa media sosial membuat beliau lebih sehat," ujar Dedie kepada wartawan di Bogor, Selasa, (31/3/2020).

Dedie melanjutkan, social media distancing dapat membantu meningkatkan imunitas Wali Kota Bogor itu. Sebab media sosial saat ini tengah dibanjiri oleh pemberitaan tentang COVID-19 dan selama penyembuhan Bima menghindari sementara informasi terkait virus membahayakan tersebut.

Dikutip dari laman BBC News Indonesia, Rabu (1/4/2020), sebagai salah satu negara di Asia yang terkena pandemi virus Corona ternyata warga Korea Selatan lebih takut dengan stigma sosial daripada virus itu sendiri.

Penyebab warga Korea Selatan lebih takut dengan stigma sosial adalah volume informasi yang disampaikan membuat canggung, serta menjadikannya merasakan khawatir berlebih. Bahkan orang yang tidak terinfeksi dan hanya ikut berkomentar tentang COVID-19 akan menjadi sasaran empuk penghakiman di tengah-tengah masyarakat, hingga di jagat media sosial.

Salah satu upaya untuk menghindari penularan COVID-19, warga Korea Selatan akan mencari identitas pribadi seseorang yang terjangkit virus tersebut.

Psikiater di Rumah Sakit Myongji di Goyang, Gyeonggi, Lee Su-young Lee mengatakan kepada BBC Korea, bahwa beberapa pasiennya lebih takut disalahkan daripada mati karena terkena virus.

"Banyak orang mengatakan kepada saya berulang kali, orang yang saya kenal terinfeksi karena saya (atau) orang tersebut dikarantina karena saya," kata Lee.

Lee melanjutkan, bahwa di Rumah Sakit Myongji pernah memiliki pasien yang memiliki tingkat kecemasan sangat tinggi. Hal ini dikarenakan pasien ini termakan berbagai komentar dan informasi di media sosial.

Berbagai komentar jahat di dunia maya telah lama menjadi salah satu masalah terberat di Korea Selatan, dan dalam beberapa kasus menyebabkan sebagian orang bunuh diri karena depresi.

Namun Lee mengingatkan, meski di tengah wabah penyakit informasi sangatlah penting tetapi tetap memilah dan lebih selektif menyaring pemberitaan. "Orang yang takut dihakimi akan bersembunyi dan ini akan lebih membahayakan semua orang,"pungkasnya.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya