Pemerintah pusat sudah menyarankan agar pekerja lakukan 'work from home' (WFH) atau bekerja dari rumah. Hal tersebut dilakukan agar meminimalisir penyebaran COVID-19. Tapi, kesempatan itu tak semua merasakan, seperti cerita Rio (nama samaran) ini.
Ya, Rio merupakan karyawan di salah satu pabrik di Bekasi, Jawa Barat. Ia mengaku masih tetap pergi ke pabrik di tengah pandemi COVID-19 ini. "Bawaannya gelisah terus di jalan, tapi mau bagaimana lagi," keluh Rio pada Okezone melalui pesan singkat, Rabu (1/4/2020).
Rio pun coba menjelaskan, sebelum akhirnya keluar rumah untuk pergi kerja, ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Misalnya saja memastikan hand sanitizer ada di saku celana, pakai masker, bawa baju ganti, dan tisu basah. "Semua barang-barang itu wajib ada banget sekarang," terang Rio.
Nah, apa yang kemudian Rio perhatikan saat menggunakan kendaraan umum?
Kekhawatiran itu besar sekali. Sebab, baginya 'everybody brings viruses', jadi dia memilih untuk memilih tempat duduk yang jauh dari orang-orang. Kalau akhirnya ada yang mendekat, dia bakal mengalah dan cari tempat lain.
Kemudian, apa yang terjadi di dalam tempat kerja? Menurut Rio, melakukan absensi 'finger print' itu sangat menakutkan. "Aku takut buat finger print, tapi harus. Jadi, kalau sudah absen, aku langsung cuci tangan pakai sabun. Setelah kering, pakai hand sanitizer lagi saking takutnya," tambah Rio.
Lalu, sekarang semua orang di tempat kerja pakai masker, komunikasi antar karyawan pun terbatas sekali. "Ngobrol kalau perlu saja," terangnya. Bahkan, Rio mengaku jadi orang yang antisosial karena pandemi COVID-19 ini.
Menghindari keramaian juga akhirnya Rio membawa bekal makan sendiri. Ini memungkin dia menjaga makanan yang dikonsumsi dan tidak makan bersama di kantin pabrik yang cenderung ramai. "Ya, aku makan di meja kantor biar nggak ngumpul sama karyawan lain. Benar-benar meminimalisir kerumunan walau aku di tempat kerja," tambah pria yang menetap di Kalibata, Jakarta Selatan itu.
Rio melanjutkan, pas pulang dirinya akan mengganti baju setelah keluar dari pabrik. Ini dilakukan selain agar tidak membawa virus dari pabrik tempatnya bekerja, tapi juga membuat badannya tidak lembap.
Di kendaraan umum pun Rio akhirnya harus memastikan kereta listrik yang ia gunakan tidak terlalu ramai. Hal ini membuat dirinya kadang merelakan kereta yang ada tapi penuh dan menungu kedatangan kereta listrik berikutnya.
"Sampai rumah, aku ngikutin apa yang disaranin pemerintah untuk meletakkan sepatu di luar rumah, langsung mandi, dan tentunya ganti baju lagi. Makan malamnya jadi lebih larut, tapi nggak masalah," curhatnya.
Rio pun memberikan saran pada teman-teman pekerja yang masih ke tempat kerja untuk menggunakan masker dan rajin cuci tangan. Sebab, berdasar pengamatannya sejauh ini masih banyak yang enggan pakai masker dan tidak menjaga kebersihan tangan secara khusus.
(Helmi Ade Saputra)