Nasih melanjutkan, masyarakat kini dapat memanfaatkan Lembaga Penyakit Tropis yang ada di Unair untuk mengidentifikasi keberadaan virus ini. Terkait dengan pengerjaan identifikasinya, Nasih menjelaskan, masyarakat tak butuh waktu lama dan hasilnya 99 persen akurat.
"Jika ada suspect virus korona, bawa saja ke Unair. Melalui sampel dahak yang dikeluarkan, kami akan mendeteksi dan hasilnya akan keluar dalam beberapa jam saja," papar Nasih.
Saat ini, Indonesia hanya memiliki dua lembaga yang memiliki reagen virus korona Wuhan ini, yaitu Unair dan Balitbang Kementerian Kesehatan. Keberhasilan Unair menemukan reagen juga diakui Nasih berkat dukungan dari RSUA, RSUD dr. Soetomo, LPT, dan beberapa pakar lainnya yang dikepalai Prof. dr. Soetjipto.
"Dengan identifikasi tersebut, diharapkan bisa menghasilkan riset yang benar-benar bisa mengatasi virus 2019-nCoV dan wabah tersebut benar-benar tidak ada di Indonesia," pungkasnya.
Nasih pun mengimbau agar masyarakat tidak panik dalam menyikapi virus korona Wuhan ini. Unair membuka pintu kerjasama selebar-lebarnya untuk universitas atau rumah sakit yang memiliki pasien suspect atau bahkan confirm virus korona nCoV. "Ini artinya, Unair siap dari proses identifikasi hingga tahap penyembuhan," tambahnya.
(Helmi Ade Saputra)