Bertambahnya kasus wabah virus korona baru (2019-nCoV) setiap hari menjadi kekhawatiran masyarakat dunia. Sampai sekarang saja data menjelaskan, ada 492 korban jiwa dari 23.865 kasus global.
Di Indonesia sendiri, sampai detik ini belum ditemukan satu kasus pun terkait wabah virus korona baru ini. Kementerian Kesehatan pun mengungkapkan, meski ada 38 laporan diduga virus korona, hasil laboratorium menyatakan semuanya negatif.
Fakta ini tentu jangan membuat kita semua lengah. Menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh harus dilakukan maksimal, salah satunya adalah rutin menyuci tangan dan memastikan sistem imun tubuh baik dengan menjaga pola makan dan berolahraga.
Di sisi lain, penyebaran virus yang dapat dilakukan melalui manusia ke manusia, ini juga harus dijadikan perhatian penting semua orang. Nah, agar masyarakat dapat lebih mudah mendeteksi keberadaan virus korona di dalam tubuh yang memiliki gejala yang mirip dengan wabah, Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Kobe University Jepang berhasil menemukan reagen virus baru ini.
Reagen ini yang nantinya dapat digunakan untuk memeriksa dan mendeteksi virus korona 2019-nCoV dengan kode Novel 201 Coronavirus yang berasal dari Wuhan, China. Reagennya ini adalah premier spesifik yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi seseorang yang suspect atau bahkan confirm virus korona Wuhan.
"Ini merupakan berita baik untuk meyakinkan masyarakat luas akan status positif dan negatifnya virus korona atau coronavirus di Indonesia. Jangan sampai di media tidak ada tapi di lapangan sebenarnya ada," ungkap Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, melalui laman resmi Universitas Airlangga, UNAIR NEWS, Rabu (5/2/2020).
Nasih melanjutkan, masyarakat kini dapat memanfaatkan Lembaga Penyakit Tropis yang ada di Unair untuk mengidentifikasi keberadaan virus ini. Terkait dengan pengerjaan identifikasinya, Nasih menjelaskan, masyarakat tak butuh waktu lama dan hasilnya 99 persen akurat.
"Jika ada suspect virus korona, bawa saja ke Unair. Melalui sampel dahak yang dikeluarkan, kami akan mendeteksi dan hasilnya akan keluar dalam beberapa jam saja," papar Nasih.
Saat ini, Indonesia hanya memiliki dua lembaga yang memiliki reagen virus korona Wuhan ini, yaitu Unair dan Balitbang Kementerian Kesehatan. Keberhasilan Unair menemukan reagen juga diakui Nasih berkat dukungan dari RSUA, RSUD dr. Soetomo, LPT, dan beberapa pakar lainnya yang dikepalai Prof. dr. Soetjipto.
"Dengan identifikasi tersebut, diharapkan bisa menghasilkan riset yang benar-benar bisa mengatasi virus 2019-nCoV dan wabah tersebut benar-benar tidak ada di Indonesia," pungkasnya.
Nasih pun mengimbau agar masyarakat tidak panik dalam menyikapi virus korona Wuhan ini. Unair membuka pintu kerjasama selebar-lebarnya untuk universitas atau rumah sakit yang memiliki pasien suspect atau bahkan confirm virus korona nCoV. "Ini artinya, Unair siap dari proses identifikasi hingga tahap penyembuhan," tambahnya.
(Helmi Ade Saputra)